• Home
  • Ekonomi
  • Empat Pilar Wujud Peduli Topang Target Besar Pertamina

Empat Pilar Wujud Peduli Topang Target Besar Pertamina

Selasa, 04 September 2018 10:20:00
BAGIKAN:
Dokumentasi Pertamina RU II
INDUSTRI kilang Pertamina tercatat telah berjalan sejak terbitnya UU Nomor 8/1971, regulasi yang menjadi dasar berdirinya Pertamina. Data menunjukkan bahwa dari total kapasitas kilang minyak Indonesia yang saat ini sekitar 1,15 juta barel per hari, sekitar 1 juta barel per hari atau sekitar 87 persen di antaranya merupakan kilang milik Pertamina.
 
Pertamina Refenery Unit II Kota Dumai meliputi Sungai Pakning total kapasitas produksi 170 ribu barel per hari. Sekitar 120 ribu barel per hari dari Kota Dumai dan 50 ribu barel per hari dari Sungai Pakning serta 18 persen porsi supley untuk nasional.
 
Sejarah Singkat Pertamina RU II
 
Lokasi unit pengolahan (UP) atau saat ini dibahasakan refinery unit (RU) II berada di Kabupaten Bengkalis (sekarang sudah menjadi Kota Dumai), Provinsi Riau. Kilang Dumai persisnya terletak di tepi Selat Rupat, sebelah Timur Kota Dumai.
 
Mulai dibangun pada tahun 1969 (CDU) oleh Kontraktor Jepang, Ishikawajima Harima Industries Co. Peresmian pengoperasian kompleks kilang seluas 360 hektare ini dilakukan oleh Presiden Soeharto, 08 September 1971. Selanjutnya, pada tahun itu dibangun dua Unit Proses, yaitu Naptha Rerun Unit dan Hydrocarbon Platforming Unit. Dua unit ini selesai dan dioperasikan tahun 1973.
 
Kilang RU II Dumai memiliki 14 unit proses produksi pengolahan dan dua unit penunjang proses produksi. Kilang minyak UP II Dumai terdiri atas kilang lama (Existing Plant) dan kilang baru (New Plant). Existing Plant terdiri atas 3 unit proses, yaitu Topping Unit/Crude Distilling Unit (CDU), Naptha Rerun Unit (NRU), dan Hydrobon Platforming Unit (Platforming I). Sedangkan dua unit penunjang produksi adalah Instalasi Tanki dan Pengapalan dan Utilities Unit.
 
New Plant (Hydrocracker Complex) merupakan perluasan dari Existing Plant yang dibangun pada tahun 1981. Pengoperasiannya diresmikan oleh Presiden Soeharto, 16 Februari 1984. Sebelumnya, hanya produksi 100.000 barel per hari dan kilang mulai mengalami penyempurnaan secara bertahap sehingga kapasitas produksinya dapat lebih ditingkatkan. Pada akhir 1981 kapasitas produksi meningkat menjadi 120.000 barel per hari hingga saat ini.
 
Sementara itu, Kilang Sei Pakning terletak di tepi pantai Sungai Pakning dengan areal seluas 40 hektare. Kilang minyak ini dibangun pada November 1968 oleh Kontraktor Refican Ltd. (Refining Associates Canada Limited). Selesai dibangun dan mulai berproduksi pada bulan Desember 1969. Pada awal beroperasi kapasitas produksi 25.000 barel per hari. Pada September 1975 seluruh operasi Kilang Sei Pakning beralih dari Refican kepada Pertamina.
 
Selanjutnya kilang ini mulai mengalami penyempurnaan secara bertahap sehingga kapasitas produksinya dapat lebih ditingkatkan. Pada akhir 1977 kapasitas produksi meningkat menjadi 35.000 barel per hari dan April 1980 naik menjadi 40.000 barel per hari. Kemudian mulai 1982 kapasitas produksi sesuai dengan design, yaitu 50.000 barel per hari. Bagian operasi Kilang Sungai Pakning terdiri atas: CDU, ITP (Instalasi Tanki dan Pengapalan), utilities, dan laboratorium.
 
GM Pertamina Otto Gerentaka melalui Agustiawan Officer Comm & Relation (Commrel) RU II Dumai ditemui wartawan riaupembaruan.com di ruangan kerjanya menjelaskan, bahwa Pertamina dapat dikatakan memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan pelaku yang lain dalam industri kilang di dalam negeri. Selain memiliki keunggulan karena dapat mengintegrasikan industri kilang dengan usaha hulu migas mereka, Pertamina juga telah memiliki jaringan infrastruktur distribusi dan niaga BBM yang telah tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
 
"Pertamina telah berada beberapa langkah di depan pelaku usaha yang lain. Adanya target penambahan kapasitas kilang pada tahun 2025 mendatang, menegaskan Pertamina merupakan leader dalam industri kilang di dalam negeri," jelas Agus sapaan akrabnya.
 
Menurut dia, penambahan kapasitas kilang yang ditargetkan melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Root Refinery (GRR) yang notabene tidak sederhana, menegaskan kesungguhan Pertamina dalam mengembangkan bisnis kilang mereka.
 
"Proyek RDMP merupakan proyek modifikasi kilang yang telah ada untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja kilang. Sedangkan GRR merupakan proyek pembangunan kilang baru untuk menambah kapasitas kilang yang telah ada," ungkap Agus.
 
Tambahnya, rencana tambahan kapasitas pada tahun 2025 ditargetkan sebesar 300.000 barel per hari, berasal dari RDMP Kilang RU II Dumai. Berdasarkan sejumlah indikator yang ada tersebut, sudah sangat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa Pertamina memiliki peran penting dan komitmen yang kuat dalam mengembangkan industri kilang guna mendorong terwujudnya ketahanan dan kedaulatan energi nasional.
 
Program 4 Pilar Pertamina RU II
 
Pertamina membuktikan kepeduliannya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Ada empat pilar program CSR Pertamina. Yaitu pendidikan tema Program Cerdas, lingkungan tema Program Hijau, infrastruktur tema Program Berdikari dan kesehatan publik melalui tema program Sehat.
 
Salah satu realisasi di bidang pendidikan atau Progran Cerdas Pertamina melalui beasiswa perguruan tinggi di Bandung dan bantuan pendukung aktifitas sekolah. Di bidang Lingkungan, Pertamina mengangkat tema Program Hijau. Cara ini dilakukan dengan penanaman pohon, pemberian bibit gratis sampai dengan cara-cara menghemat energi. 
 
"Pertamina setiap tahun memberikan beasiswa untuk 5 orang putra-putri terbaik kota Dumai untuk melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi di Bandung hingga selesai. Untuk program hijau Pertamina melaksanakan penanaman bibit mangrove di pesisir pantai laut Dumai dan Sungai Pakning," jelas Agus.
 
Di bidang infrastruktur melalui program Berdikari, pembangunan taman kota Dumai serta Pertamina memberikan bantuan pemberdayaan masyarakat. Program lain dibidang ini adalah program binaan serta perbaikan sarana air bersih. Di bidang kesehatan dengan tema Program Pertamina Sehat antaranya posyandu sehati, penambahan alat kesehatan, penyehatan drainase, pengelolaan bank sampah hingga Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
 
"Penyaluran CSR 4 Pilar Pertamina RU II Dumai hingga September 2018 mencapai Rp2.7 Miliar dari rencana program dianggarkan Rp3 Miliar untuk tahun 2018, dibandingkan tahun 2017 lalu realisasi meningkat dari Rp2.5 Miliar. Semua ini dilakukan Pertamina sebagai bukti tanggung jawab dan wujud peduli Pertamina kepada masyarakat," tutup Agus mengakhiri.***
 
Penulis: Rezi Andika Putra
BAGIKAN:

BACA JUGA

  • Serikat Pekerja Pertamina Dumai Gelar Aksi Blok Migas

    RIAUPEMBARUAN.COM - FSPPB (Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu) PT Pertamina RU II Dumai menggelar aksi demo di Gate

  • Silaturahmi Pertamina dan PWI Dumai Sambut Ramadhan 1439

    RIAUPEMBARUAN.COM - Manajemen Pertamina RU II silaturahmi dengan PWI Dumai, Selasa (15/5) di satu resto Jalan Sultan Hasanuddin, Kota Dumai. Silaturahmi

  • Pertamina Klaim Stok BBM Natal dan Tahun Baru Aman

    RIAUPEMBARUAN.COM - PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) 1 menyatakan stok Bahan Bakar Minya

  • Ribuan Peserta Ikuti Perkemahan Akbar Pertamina Dumai

    RIAUPEMBARUAN.COM - Ribuan peserta mengikuti Perkemahan Akbar Pramuka sempena HUT Pertamina ke 60 Tahun 2017 ya

  • KOMENTAR
    situspoker situspoker