Bengkalis -
Bengkalis

PSBB di Bengkalis Dinilai Gagal Sosialisasi

Redaksi Redaksi
PSBB di Bengkalis Dinilai Gagal Sosialisasi

RIAUPEMBARUAN.COM -Meskipun berdasarkan jadwal sudah berjalan sejak Jumat (15/5/20) lalu, dan Gugus Tugas Pemkab Bengkalis mengefektifkan Senin (18/5/20) ini, namun kenyataan di lapangan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Bengkalis belum sesuai yang diharapkan.

Terbukti hari ini, pagi hingga petang menjelang berbuka, aktifitas warga Bengkalis masih ramai seperti biasanya. Warga memadati lokasi-lokasi keramaian dan tidak menggunakan masker, dan tampak tidak ada pengaruh dengan adanya penerapan PSBB yang dilakukan oleh Pemkab Bengkalis.

Hampir semua toko buka seperti biasa baik itu kedai kopi, toko sembako, toko harian/kelontong, toko alat listrik, toko besi dan bangunan, toko pupuk, pasar, toko buah dan sayuran, dan toko perhiasan. Kemudian toko jam, toko kaca/aluminium, toko alat olahraga/pancing, toko kacamata, toko variasi/dealer motor, toko mainan anak, toko buku, alat tulis dan foto kopi, toko barang bekas, toko barang pecah belah, salon/pangkas rambut, dan pakaian.

Padahal, berdasarkan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 39/2020 tentang Panduan bagi Penerapan PSBB di Kabupaten Bengkalis toko yang tidak berhubungan dengan bahan dan barang pangan atau kebutuhan pokok serta barang penting tidak boleh melaksanakan kegiatan selama PSBB berlangsung.


Hal itu dituding sejumlah kalangan karena tidak maksimalnya sosialisasi sehingga tidak dianggap masyarakat sesuatu yang penting untuk dilaksanakan, apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang selama PSBB berlangsung.

Kemudian untuk transportasi juga masih seperti hari-hari biasa. Tidak ada pemblokiran jalan-jalan utama, kendaraan roda dua berboncengan dengan mudah ditemukan di jalanan.

Mirisnya, sebagian besar pemilik toko tidak tahu apa-apa saja yang dilarang untuk dilakukan dan apa yang diperbolehkan. "Informasinya tak ada sampai ke kita, jadi kita tetap bukalah," ujar salah seorang pemilik salon di Bengkalis.

Hal senada diungkapkan pemilik usaha pangkas rambut. Pria yang akrab disapa Anto ini juga mengaku tidak tahu apa saja yang dilarang. “Kalau pangkas rambut dilarang, tentu harus jelas hitung-hitungnya. Saya mau saja tutup, tapi kompensasinya tentu harus ada,” ujarnya.

"Penerapan PSBB ini kan terkesan dipaksakan, sosialisasinya pun seadanya jadi banyak juga yang tidak tahu. Seharusnya (sosialisasi, red) lebih gencar lagi," ujar salah seorang warga Bengkalis, Indra Jaya saat dimintai tanggapannya.*

Penulis: Eru Kurniawan

Editor: M Ridduan


Tag:Covid 19 BengkalisPSBB Bengkalis