Ekonomi

Grup Bakrie, Raja Batubara di Indonesia

Redaksi Redaksi
Grup Bakrie, Raja Batubara di Indonesia

RIAUPEMBARUAN.COM -Bicara bisnis tambangbatubaradi Indonesia, perusahaan-perusahaan milikGrup Bakrieadalah pemain besarnya.

Selain batubara, kelompok ini bisnis ini memiliki banyak perusahaan yang bergerak di berbagai sektor antara lain kontraktor migas, telekomunikasi, asuransi, industri logam, perkebunan sawit, hingga stasiun televisi.

Di sektor tambang batubara, Grup Bakrie menjadi salah satu produsen terbesar di Indonesia. Tambang batu bara di Kalimantan dikelola oleh PT PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Induk usaha ini membawahi dua raksasa tambang batu bara Kalimantan, yakni PTArutmin Indonesia dan PTKaltim Prima Coal(KPC).

Bahkan baru-baru ini, Kementerian ESDM merilis data, bahwa KPC milik Grup Bakrie jadi perusahaan dengan produksi batubara terbesar di Indonesia sepanjang kuartal I 2021.

Peringkat pertama ini mengalahkan jumlah produksi Adaro yang selama beberapa tahun mendominasi urutan teratas produksi batubara terbesar di Tanah Air.

Meski merilis data perusahaan - perusahaan dengan produksi batubara terbesar, Kementerian ESDM tidak merinci jumlah produksi batubara setiap perusahaan.

Grup Bakrie juga mengelola konsesi tambang batubara lainnya lewat PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS) yang kepemilikan sahamnya masih terafiliasi dengan BUMI.

BMRS juga mengolah beragam mineral, termasuk tembaga, emas, seng, serta memimpin dan memegang jaminan kepemilikan untuk eksplorasi dan pengembangannya.

Untuk mendukung bisnis batubara miliknya, Grup Bakrie juga memiliki kontraktor tambang di bawah PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

Beberapa bisnis yang digelutinya antara lain pembersihan permukaan tanah, pemindahan tanah pucuk, pemindahan lapisan penutup, pengangkutan batu bara, dan pengapalan batu bara.

Produksi batubara KPC dan Arutmin

Dikutip dariKontan, PT Kaltim Prima Coal (KPC) masih menjadi produsen batubara terbesar di Indonesia. Begitupun Arutmin di posisi teratas.

KPC memiliki potensi sumber daya dan cadangan batubara yang masih tinggi. Merujuk data dari Joint Ore Reserves Commite (JORC) Maret 2018, KPC masih memiliki cadangan sebanyak 1,07 miliar ton dan sumber daya sebesar Rp6,9 miliar ton.

Sebagai informasi, tambang Arutmin berlokasi di Satui, Senakin, Batulicin, dan Asam-asam, Kalimantan Selatan dengan luas mencapai 57.107 hektare. Sedangkan tambang KPC berlokasi di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur dengan luas wilayah mencapai 90.938 hektare.

Anak usaha dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI) itu menargetkan bisa memproduksi batubara sebanyak 60 juta ton pada tahun lalu.

Acting Chief Excecutive Officer (CEO) KPC Ido Hotna Hutabarat menyampaikan, kapasitas produksi KPC mencapai 65 juta ton. Pada tahun sebelumnya, produksi batubara KPC tercatat sebesar 61,5 juta ton.

"Kualitas batubara (KPC) bervariasi, berkisar dari 4.200 gram hingga 6.300 gram," kata Ido.

KPC menopang hingga 70 persen produksi batubara BUMI. Adapun pada tahun ini, perusahaan tambang batubara tersebut menargetkan produksi direntang 85 juta ton - 89 juta ton.

Meski menjadi produsen batubara terbesar, bukan berarti KPC lepas dari tantangan. Ido membeberkan, ada sejumlah tantangan yang dihadapi KPC. Utamanya adalah volatilitas dan ketidak pastian, termasuk dalam hal pergerakan harga batubara.

Memitigasi hal tersebut, KPC pun sudah menyiapkan rencana strategis untuk dapat melakukan efisiensi biaya produksi. Antara lain melalui digitalisasi dalam operasi pertambangan.

Dengan begitu, produksi dapat termonitor secarareal timedan lebih efisien. Alhasil, biaya produksi pun bisa ditekan.

"Tahun 2020, ini program unggulan di KPC. Dengan program digitalisasi ini menghasilkansavingyang cukup bagus, dan mampu menurunkan costproduksi," terang Ido tanpa memberikan gambaran besaran efisiensi yang dimaksud.

Seperti diketahui, Group Bakrie melalui PT Bakrie Capital Indonesia telah menjalin kerja sama dengan PT Ithaca Resources dan Air Product untuk membangun fasilitas produksi batubara menjadi metanol di Kalimantan Timur. Konsorsium tersebut menargetkan proyek batubara menjadi metanol itu bisa beroperasi pada 2024.

Dalam proyek yang diestimasikan menelan biaya investasi hingga 2 miliar dollar AS tersebut, BUMI berpotensi memasok kebutuhan batubara hingga 6 juta ton per tahun.*

Penulis: Redaksi

Editor: M Ridduwan


Tag:Berita NasionalGrup Bakrie