Info Sawit -
Info Sawit

Antisipasi Harga Sawit, Masyarakat Beternak Ayam Organik

Redaksi Redaksi
Antisipasi Harga Sawit, Masyarakat Beternak Ayam Organik
Net/Ilustrasi

RIAUPEMBARUAN.COM -Dimasa pandemic Covid-19, semua aktivitas masyarakat sedikit banyak terganggu, demikian pula harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit yang tercatat terus melorot. Kondisi demikian mengancam pendapatan masyarakat di Kec. Telaga Antang, Kab. Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah yang umumnya bergantung pada usaha sawit dan karet.

Melihat kondisi demikian salah satu anak usaha Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Group, PT Karya Makmur Bahagia (KMB) melakukan kemitraan dengan Desa Rantau Tampang dalam upaya membangun ekonomi masyarakat selain komoditas sawit. Salah satunya dengan melakukan pengembangan ternak Ayam Pedaging jenis organik.

Ayam organik merupakan ayam yang diternak secara alami, tanpa menggunakan bahan kimia. Bibit ayam Day Old Chicken (DOC) nya sejak awal ditetaskan dan dibesarkan dengan perlakuan organik. Pakan nya pun berasal dari sayuran organik dan dedaknya dibuat dari beras organik. Ayam juga diberi jamu-jamuan seperti temulawak, kunyit, jahe, dengan difermentasi bersama bermacam-macam buah buahan, dll.

Pemeliharaan, pemotongan, dan pembersihan daging ayam juga tidak menggunakan bahan kimia. Ayam organik dipelihara selama 35 - 70 hari sampai mencapai berat 1.500-2.500 gram. Harga per ekornya sekitar Rp 70.000,- untuk ukuran 1.500-1.700 gram.

Selain itu, secara fisik ayam organik juga lebih baik. Dagingnya segar dan berserat halus, tak mudah hancur. Ukuran dagingnya tak menyusut jika digoreng. Setelah dibakar, dagingnya mengilat dan terlihat segar. Ayam organik juga lebih tahan terhadap stres. Oleh karena itu harga jualnya relatif lebih tinggi dibanding ayam pedaging/potong biasa.

Kelompok binaan budidaya ayam pedaging organik mitra BGA Region Mentaya telah berjalan sejak November tahun 2017 sampai sekarang. Sebelumnya hanya ada 1 kandang kecil, namun kini telah berkembang menjadi 2 kandang besar seluas 10x15 m.

Dikatakan Kades Rantau Tampang, Rudi Antonius, kemitraan yang telah berjalan lama ini sudah banyak berdampak positif bagi masyarakat, lantaran mendukung pendapatan masyarakat selain dari berkebun sawit.

“Pengembangan ternak ini telah berjalan hampir tiga tahun dan menjadi salah satu ketahanan pangan kami (masyarakat Rantau Tampang) dalam menghadapi situasi pandemi yang tak kunjung selesai ini,” katanya dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, belum lama ini.

Lebih lanjut kata Rudi Antonius, tak hanya kemitraan membangun ternak ayam oganik, lantaran desa nya kerap pula memperoleh dukungan lain dari perusahaan semisal penyerapan tenaga kerja, perbaikan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan perempuan dan donasi.*

Penulis: Redaksi

Editor: Iwan Iswandi

Sumber: InfoSawit


Tag:Berita SawitInfo Sawit