Maritim

Semangat Layanan dan Strategi Pertamina Pertahankan Logistik Kala Pandemi

Redaksi Redaksi
Semangat Layanan dan Strategi Pertamina Pertahankan Logistik Kala Pandemi
Istimewa

Kilang Pertamina Refenery Unit II Dumai

MIGAS (Minyak dan Gas Bumi) merupakan komoditas vital yang menguasai hajat hidup orang banyak dan mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional sehingga pengelolaannya harus dapat secara maksimal memberikan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Oleh karena itu, Pemerintah RI telah menetapkan sejumlah peraturan perundang-undangan beserta instrument pelaksanaannya dalam tata kelola industri strategis ini yang mengatur semua lingkup aktivitas kegiatan usaha, mulai dari hulu sampai dengan hilir.

Industri hulu Migas sendiri merupakan industri yang unik. Cakupan kegiatannya meliputi kegiatan eksplorasi, pengembangan lapangan migas, produksi atau eksploitasi, lifting minyak bumi atau gas alam.

Dalam konteks rangkaian kegiatan tersebut, desain sejumlah perangkat hukum masih membuka peluang timbulnya permasalahan pada tataran implementasi diantaranya aspek penentuan pembagian wilayah kerja dan pelaksanaan tender dan penunjukan kontraktor.

"Industri migas secara umum melakukan lima tahapan kegiatan, yaitu eksplorasi, produksi, pengolahan, transportasi, dan pemasaran. Lima kegiatan pokok atau kegiatan usaha inti (core business) ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu kegiatan hulu dan kegiatan hilir," jelas Moch Abadi Direktur PT RTG Lead Trainer Oil & Gas.


Disisi lain, soal tata cara penawaran lapangan, Kontrak dan kerjasama KKKS dan Investasi. Adapun, hal itu tertuang dalam Permen ESDM No 12 Tahun 2020 Tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri ESDM No 08 Tahun 2017 Tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split.

"Ganti Menteri, Ganti Kebijakan. Artinya, kontraktor migas boleh memakai kontrak bagi hasil cost recovery kembali. Ketentuan itu dituangkan dalam Permen ESDM No 12 Tahun 2020 Tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri ESDM No 08 Tahun 2017 Tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split, yang disahkan pada 16 Juli 2020," kata Silambi Palamba, Ex Senior Economist Lemigas, Private Equity Advisory.

Terpisah, Pudjo Suwarno memaparkan bahwa, dari industri hulu migas tersebut target atau produk yang diperoleh adalah minyak mentah dan gas. Produk ini bisa langsung dijual atau diekspor. Untuk minyak mentah alangkah baiknya jika tidak di ekspor atau dijual ke luar negeri. Minyak mentah ini bisa langsung diolah di refinery di dalam negeri.

"Pembangunan pipa, perawatan pipa, belum lagi pembangunan terminal regasifikasi untuk LNG semua membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Kekhawatiran adalah hal ini akan mematikan industri midstream karena sudah tidak menguntungkan lagi," ujar Pudjo Suwarno Direktur PT SPAB dan PT Amaranz Energy Indonesia.


Dampak pandemi Covid-19 menyodok ke mana-mana, tidak terkecuali industri minyak dan gas (migas). Situasi pasar yang tidak bergairah, harga yang kurang merangsang, dan gangguan atas rantai pasokan, telah mengendurkan kegiatan produksinya.

"Alhasil, target produksi migas 2021 harus disesuaikan agar lebih realistis. Target produksi pun dipatok per hari. Tak banyak kemajuan dari 2020," jelas Sekjen Aspermigas Moshe Rizal.

Pemaparan disampaikan melalui zoom meeting oleh Asosiasi Perusahaan Migas (Aspermigas) bersama JSK Petroleum Academy menggandeng PT Pertamina (Persero) mengajarkan para jurnalis soal 'Bisnis Proses Minyak dan Gas (Migas) dari Hulu ke Hilir skala Nasional dan Internasional' disampaikan oleh ilmuan profesional dibidangnya.

Program Unggulan Pertamina

Direktur Logistik dan Infrastruktur Pertamina Mulyono menjelaskan, selama ini BBM dan LPG yang dibeli Pertamina berasal dari Singapura, lantaran negara itu memiliki salah satu fasilitas penyimpanan migas dan produknya dalam skala besar. Namun, dengan program SHS (Supplier Held Stock) tidak perlu menyewa atau mendatangakan BBM dari stroge yang ada di Singapura.


"Kami punya program mudah-mudahan segera jalan, kalau ini jalan luar biasa. Kami akan beli BBM jangka panjang. Misalnya dalam 10 tahun, tetapi kami minta stoknya disimpan di Indonesia bukan di Singapura," kata Mulyono menyampaikan kata pembuka saat kegiatan ditaja Aspermigas, Sabtu (03/10/2020).

Apabila program ini jalan, kata Mulyono, banyak keuntungan yang bisa diperoleh baik untuk negara ataupun Pertamina. Konsep program ini biaya untuk pengadaan stok akan ditanggung pihak supplier (Singapura.red), Pertamina akan membayar ke Supplier ketika dilakukan pengambilan produk.

"Tapi kalau SHS kami tahu barangnya di Indonesia sehingga yang nanggung inventory stock adalah Supplier. Akan meningkatkan ketahanan stok nasional walaupun bukan punyanya Pertamina, tapi sudah ada di Indonesia kalau terjadi apa-apa bisa kita gunakan," ungkap Mulyono mengakhiri.*

Penulis: Rezi Andika Putra

Editor: Redaksi


Tag:AJP 2020Anugerah Jurnalistik PertaminaPT PertaminaPT Pertamina RU II DumaiPertamina Sumbagteng