Nasional

100 Dokter Gugur Bukti Pengendalian Covid-19 Indonesia Tidak Optimal

Redaksi Redaksi
100 Dokter Gugur Bukti Pengendalian Covid-19 Indonesia Tidak Optimal
Net/Ilustrasi

RIAUPEMBARUAN.COM -Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah menyampaikan 100 dokter telah gugur selama berlangsungnya pandemi Covid-19.

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, banyaknya tenaga medis yang gugur saat berjuang merawat pasien yang terpapar Covid-19 menjadi bukti bahwa pemerintah tidak optimal dalam mengendalikan pandemi corona.

"Ini adalah bukti bahwa performa pengendalian pandemi Covid-19 belum optimal dan memadai. Artinya kasus di masyarakat belum terdeteksi sehingga mereka menularkan ke kelompok rawan di masyarakat yang akhirnya kunjungan ke rumah sakit meningkat dan orang yang datang ke rumah sakit tentu menyebabkan rumah sakit menjadi klaster," kata Dicky saat dihubungi Okezone, Rabu (2/9/2020).

Ia mengingatkan bahwa rumah sakit merupakan klaster terbanyak yang ada di seluruh dunia. Sehingga, tenaga medis berada dalam posisi sebagai orang-orang yang sangat rawan dan berisiko tinggi terpapar corona.

"Jadi untuk memproteksi tenaga kesehatan, ya melakukan strategi pengendalian di masyarakat dengan optimal. Karena jika tidak dilakukan sama dengan menempatkan tenaga kesehatan dalam posisi rawan dan juga semakin terbebani," jelasnya.

Dicky mengatakan, rumah sakit akan dibayangi over load atau kelebihan beban kapasitas pasien dan mengakibatkan tugas tenaga medis semakin berat. Alhasil, potensi semakin banyaknya tenaga medis yang berguguran tetap tinggi.

"Dan ini sekali lagi juga merugikan pemerintah karena kehilangan orang-orang yang dibutuhkan dalam perang melawan pandemi ini dan orang dengan keahilan seperti ini sangat penting perannya dalam mencegah terjadinya kematian karena mereka yang menangani pasien yang kritis," ucapnya.

Dicky mengatakan, bahwa bila tenaga medis gagal dilindungi maka angka kematian karena Covid-19 akan tetap tinggi di Tanah Air. Pasalnya, hanya tenaga medis yang mampu menangani pasien Covid-19 yang kritis.

"Tenaga medis bukan hanya ada pada APD-nya tapi juga diberikan dukungan yang lain, seperti dukungan mental, ekonomi dan terutama juga lakukan tes secara periodik karena mereka yang berhubungan dengan orang sakit. Sehingga mereka harus dipastikan dalam kondisi sehat ketika berinteraksi dengan tenaga medis lainnya," pungkasnya.*

Penulis: Redaksi

Editor: Iwan Iswandi

Sumber: Okezone


Tag:Berita NasionalCovid 19