Nasional

Kembalinya Blok Rokan ke Ibu Pertiwi

Redaksi Redaksi
Kembalinya Blok Rokan ke Ibu Pertiwi
Istimewa

Kilang Internasional, Pertamina Refenery Unit II Dumai.

SUDAH enam dekade, Pertamina memproduksi banyak komoditas seperti bahan bakar, minyak tanah, LPG (Bahan bakar gas cair), LNG (gas bumi cair), dan petrokimia.

Sepanjang itu pula, Pertamina melahirkan anak dan cucu perusahaan hingga mencapai 127. Besarnya jumlah anak usaha tersebut membuat perseroan kesulitan dalam mengelola dan menyusun rencana strategisnya.

Karena itu, bergulirlah wacana restrukturisasi yang diusulkan oleh pemegang saham mayoritas yakni Kementerian BUMN. Restrukturisasi dilakukan dengan memangkas jumlah anak perusahaan dari 127 menjadi 12. Kedua belas anak perusahaan tersebut dikelola oleh enam subholding Pertamina.

Adapun perbaikan kinerja Pertamina didukung oleh kembalinya Blok Rokan ke pangkuan ibu pertiwi. Sebelumnya, lapangan migas terbesar di Tanah Air itu dikelola oleh perusahaan migas asal Amerika Serikat, PT Chevron Pacific Indonesia selama 97 tahun.

Selama itu, Chevron memompa lebih dari 11 miliar barel minyak di Blok Rokan hingga akhirnya resmi jatuh ke tangan anak usaha Pertamina, yakni Pertamina Hulu Rokan pada Senin, 09 Agustus 2021.

Saat ini, Blok Rokan menyumbang 24 persen dari total produksi minyak di Indonesia dan menyumbang produksi minyak terbesar nomor dua secara nasional dengan wilayah kerja mencapai 6.220,29 kilometer persegi.

Ini 10 lapangan utama di Blok Rokan: Minas, Duri, Bangko, Bekasap, Balam south, Kota Batak, Petani, Lematang, Petapahan, Pager.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, Blok Rokan merupakan wilayah kerja yang penting bagi Indonesia. Dwi mencatat, Blok Rokan secara kumulatif telah menghasilkan minyak sebanyak 11,69 miliar barel minyak atau setara dengan 46% produksi nasional sejak berproduksi pada tahun 1951 lalu.

Pada masa titik puncak produksi Mei 1973 lalu, tingkat produksi minyak Blok Rokan bahkan sempat mencapai 1 juta barel per hari alias barrel oil per day (BOPD) sehingga bisa berkontribusi pada 83% produksi minyak nasional pada tahun 1973 silam. Saat ini, rata-rata produksi Blok Rokan tercatat sekitar 160,5 ribu barel per hari serta 41 juta kubik per hari (MMSCFD) untuk gas bumi.

Dwi berharap, pengelolaan Blok Rokan selanjutnya bisa mendukung target nasional produksi minyak sebanyak 1 juta barel per hari dan 12 billion standardcubic feet per day(BSCFD) pada tahun 2030 mendatang.

"Kontribusi produksi WK Rokan sangat krusial dalam upaya mencapai visi ini," kata Dwi pada acara seremoni Alih Kelola Wilayah Kerja Rokan yang disiarkan virtual.

Sebelumnya, untuk mengawal alih kelola WK Rokan, SKK Migas telah menginisiasiHead of Agreement(HoA) untuk menjamin investasi PT CPI pada akhir masa kontrak. Hasilnya, sejak HoA ditandatangani pada 29 September 2020 hingga 8 Agustus 2021, telah dilakukan pemboran 103 sumur pengembangan.

Selain pemboran, SKK Migas juga mengawal 8 isu lain yang menjadi kunci sukses alih kelola, yaitu migrasi data dan operasional, pengadaan chemical EOR, manajemen kontrak-kontrak pendukung kegiatan operasi, pengadaan listrik, tenaga kerja, pengalihan teknologi informasi, perizinan dan prosedur operasi serta pengelolaan lingkungan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati mengatakan, Pertamina berkomitmen mengelola Blok Rokan sebagaimana amanah yang telah diberikan untuk mendukung target nasional pemerintah.

Pertamina sendiri telah mencanangkan kegiatan pemboran sebanyak 161 sumur yang terdiri dari 84 sumur baru dan 77 sumur eks Chevron pada kurun waktuAgustus - Desember 2021 ini. Selanjutnya, pada tahun 2022 direncanakan akan ada tambahan kurang lebih sebanyak 500 sumur.

"Pertamina juga telah menetapkan anggaran investasi sampai dengan tahun 2025 sebesar lebih dari US$ 2billion," imbuh Nicke dalam acara yang sama.

Blok Rokan Belum Uzur

Meski sudah dipompa habis-habisan oleh asing selama hampir 10 dekade, Blok Rokan masih sangat potensial dalam memproduksi minyak dan gas bumi. Hal ini terbukti dari produksi minyak di WK Rokan berada di kisaran 158 ribu barel per hari (bph) tepat satu bulan pascaalih kelola.

Berdasarkan catatan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), produksi Blok Rokan tercatat di level 150 ribu bph pada 08 Agustus 2021, dan meningkat menjadi 155 ribu bph.

Di sisi lain, jumlah pengeboran sumur pada Agustus - September 2021 juga melampaui target. Pertamina Hulu Rokan (PHR) berhasil menyelesaikan 47 sumur tajak dari target 45 sumur. Tahun depan, target pengeboran PHR pun naik menjadi 500 sumur.

Bahkan PHR mampu memperpendek waktu pengeboran hingga produksi awal dihasilkan atauput on production(POP) dari sebelumnya 22 hingga 30 hari, menjadi sekitar 15 hari untuk area operasi Sumatra Light Oil (SLO) atau sumur-sumur penghasil jenis minyak ringan.

Sebulan lebih melakukan operasi di Blok Rokan sejak 09 Agustus lalu, tercatat, Pertamina Hulu Rokan (PHR) telah melakukan pengeboran sumur baru sebanyak 27 titik di Blok Rokan.

VP Corporate Affairs PHR WK Rokan Sukamto Tamrin mengatakan, selama sebulan menjadi operator Blok Rokan, kegiatan tetap beroperasi secara selamat, andal, dan lancar, bahkan mampu menaikkan angka produksi.

"Kenaikan produksi disumbangkan antara lain oleh program pengeboran sumur baru, upaya menahan penurunan produksi alamiah, dan keandalan fasilitas dan peralatan produksi yang mencapai lebih dari 95 persen," papar Sukamto.

Sektor penunjang bisnis juga dialihkelolakan secara lancar, seperti mirroring kontrak barang/jasa, kesiapan aplikasi IT dan pembaruan kontrak-kontrak pengusaha lokal dan koperasi melalui program Local Business Development (LBD).

"Kami juga mengapresiasi seluruh dukungan para pemangku kepentingan, baik itu pemerintah pusat dan daerah, SKK Migas, serta masyarakat," tutur Sukamto.

Kesuksesan alih kelola WK Rokan tidak lepas dari dukungan SKK Migas, selaku institusi pengawas dan pengendali sektor hulu migas.

Upaya yang dilakukan SKK Migas Sumbagut dalam alih kelola WK Rokan antara lain melakukan komunikasi dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait di Riau, memastikan program pengeboran dan perizinan berjalan lancar, dan menjalin koordinasi intensif dengan para operator yang akan melakukan alih kelola.

Semua itu bertujuan untuk menjaga dan menaikkan tingkat produksi WK Rokan, salah satu WK migas terbesar di Indonesia.

WK Rokan juga menjadi tulang punggung untuk pencapaian target produksi 1 juta barel minyak per hari dan 12 BSCFPD pada 2030 yang telah dicanangkan SKK Migas.

Disisi lain, anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, berharap Pertamina Hulu Rokan (PHR) dapat mempertahankan kinerja lifting blok migas ini. Syukur-syukur bila dapat ditingkatkan.

"Kita tahu blok Rokan ini adalah sumur tua yang menjadi saksi kejayaan migas nasional. Blok Rokan pernah menghasilkan minyak hingga tembus 1 juta barel per hari. Namun belakangan secara alamiah terus mengalami penurunan. Dengan mengakuisisi blok Rokan ini, maka praktis Pertamina menjadi BUMN hulu migas yang paling dominan dari total lifting minyak nasional,” kata Mulyanto.

Karena itu Mulyanto berharap aksi korporasi ini diikuti dengan pembentukan manajemen yang andal. Apalagi Dirut PHR ini bukan orang dalam Pertamina. Ada sisi positif dimana dirut PHR berasal dari SKK Migas. Paling tidak berbagai program perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kinerja blok rokan menjadi lebih akurat.

"Selain itu program kerja akan semakin terpantau dan terevaluasi oleh SKK Migas, melalui komunikasi dan koordinasi yang semakin lancar," jelas Mulyanto.

Mulyanto menambahkan Pertamina perlu mengembangkan investasi untuk peningkatan dan penerapan teknologi pengeboran yang terbukti efektif dan efisien seperti teknologi enhanced oil recovery (EOR). Hal ini perlu dilakukan untuk mempertahankan kinerja lifting yang sekarang ada.

Menurutnya, ini tentu tidak mudah di tengah suasana pandemi seperti sekarang ini. Karena itu perlu dukungan banyak pihak, baik kementerian ESDM, kementerian BUMN, pemda dan terutama SKK Migas.

"Kalau memang PHR harus share down sahamnya sebesar 30 persen, karena tidak memperoleh pendanaan melalui mekanisme normal perbankan, maka mitra yang diundang tentulah harus memiliki dana yang cukup, apalagi ketika kita ingin meningkatkan lifting minyak blok ini ke depan,” imbuh Mulyanto.

Namun demikian, tidak cukup dengan itu, kata Mulyanto, mitra yang diundang harus berpengalaman dan memiliki teknologi andal. Sebab lahan yang dikelola adalah blok tua.

Alih kelola terhadap sumur tua seperti ini bukan hanya perlu transfer data, knowledge dan SDM yang mulus, namun perlu juga tambahan investasi, pengetahuan dan teknologi baru. Bila tidak maka produktifitas lifting akan terus berkurang (decline) secara alamiah.

"Indonesia memiliki semangat untuk meningkatkan lifting minyak nasional menjadi 1 juta barel per hari di tahun 2030. Tentu ini menjadi pressure bagi manajemen PHR untuk secara smart membuktikan kinerjanya," tutup Mulyanto.***

Penulis: Rezi Andika Putra

Editor: Redaksi


Tag:Blok RokanPT PertaminaPertamina Hulu RokanPertamina InternasionalSKK MigasSKK Migas Sumbagut