Pekanbaru

Dua Oknum Pegawai Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru Jadi Tersangka Pungli

Redaksi Redaksi
Dua Oknum Pegawai Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru Jadi Tersangka Pungli
Net/Ilustrasi

RIAUPEMBARUAN.COM -KO dan SA kini telah berstatus tersangka dan menjadi tahanan kota. Dua orang tersebut merupakan pegawai Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru. Keduanya diduga terlibat dalam kasus pungutan liar (pungli) pengurusan paspor.

Informasi yang dirangkum, saat ini KO yang merupakan Ajudikator atau Supervisor, dan SA selaku Analisis Keimigrasian di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru telah diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk disidangkan.

Kasus ini sendiri sebelumnya ditangani oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Pekanbaru. Selama proses penyidikan, berkas perkara keduanya sempat bolak balik antara jaksa dan penyidik karena belum memenuhi persyaratan formil dan materil.

Baru pada Senin (23/08/21) lalu berkas perkara dinyatakan lengkap. Atas dasar itu, kemudian penyidik melakukan proses tahap II berupa penyerahan tersangka dan barang bukti ke JPU pada Kamis (26/08/21) kemarin.

Meski telah menyandang tersangka, keduanya belum dilakukan penahanan. Mereka saat ini baru menjadi tahanan kota.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Pekanbaru, Yunius Zega. Keduanya dinilai tidak akan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti bahkan mengulangi perbuatannya. Selain itu keduanya juga dinilai kooperatif.

"Rutan saat tidak menerima kalau (perkara) belum putus atau inkrah di pengadilan, sehingga kita tidak ada tempat untuk melakukan penitipan tahanan. Selain itu Pekanbaru juga masih memberlakukan PPKM level 4," ucap Zega.

Menurut Zega, status tahanan kota tersebut juga bisa saja berubah. Tergantung dari hasil persidangan yang ditetapkan majelis hakim.

Menanggapi masalah itu, Kepala Kanwil Kemenkumham Riau Pujo Harinto melalui Kepala Divisi Keimigrasian, Muhammad Tito Andrianto, mengatakan pihaknya mendukung proses hukum yang sedang berjalan.

"Kanwil Kemenkumham Riau mendukung proses hukum yang berlaku, dan menyerahkan sepenuhnya kepada penegak hukum," katanya.

Kendati demikian, kedua oknum tersebut saat ini masih berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) aktif. Sebab belum ada putusan dari pengadilan.

Tak hanya disitu, Tito juga memastikan keduanya akan mendapat sanksi secara internal. Ini akan diputuskan setelah keduanya menjalani hukuman pidana. "Sanksi internal pasti di berlakukan ini sesuai dengan aturan kepegawaian yang berlaku," jelasnya.

Dibeberkan Tito, sejak kasus ini bergulir 2020 lalu, kedua oknum pegawai Kantor Imigrasi Pekanbaru itu langsung ditarik ke Kanwil Kemenkumham Riau.

Kedua orang itu diduga turut terlibat melakukan dugaan pungli itu bersama Direktur PT Fadilah, Wandri Zaldi yang terlebih dahulu ditetapkan tersangka. Bahkan Wandri juga telah diadili di pengadilan tipikor Pengadilan Negeri Pekanbaru dan dinyatakan bersalah.

Namun dalam dakwaan Wandri, Ko dan SA masing-masing dilakukan penuntutan dalam berkas perkara secara terpisah.

Sebagai pengingat, Wandri ditangkap pada 09 Januari 2020 silam oleh tim Pokja Tindak Unit Pemberantasan Pungli Polresta Pekanbaru. Kala itu petugas juga menyita uang senilai Rp6.950.000 dari kantong celana Wandri.

Dari keterangannya, uang itu untuk pengurusan paspor dari pemohon dan keuntungan dari pengurusan paspor yang diterima Wandri. Polisi juga mengamankan beberapa buah paspor yang akan diurus Wandri.

Berdasarkan hasil interogasi, dalam pengurusan pembuatan paspor maupun perpanjangan paspor masyarakat atau pemohon secara online di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru, tersangka Wandri dibantu oleh KO dan SA.

Peran KO dalam membantu Wandri yakni, untuk menyelesaikan Ajudikator dan menyelesaikan permohonan paspor VIP. Sementara SA berperan membantu Wandri memberikan formulir PERDIM dan surat pernyataan.

Dalam pengurusan paspor untuk paket biasa, Wandri meminta biaya kepada pemohon atau masyarakat sebesar Rp600.000. Sedangkan untuk paket VIP, Wandri meminta biaya sebesar Rp1,5 juta sampai Rp1,7 juta.

Dari keuntungan yang diperoleh Wandri dalam pengurusan paspor paket biasa maupun VIP, diketahui juga mengalir ke KO dan SA. Keuntungan itu ditransfer tersangka Wandri ke rekening bank milik KO dan SA.

Adapun jumlah keuntungan uang dikirim ke rekening BNI milik KO sebesar Rp19.350.000 dan ke rekening BRI milik SA sebanyak Rp2.250.000.*

Penulis: Redaksi

Editor: Suhadi


Tag:Berita PekanbaruImigrasi TPI PekanbaruKorupsiPungli