Peristiwa

Kasus Penipuan Investasi, Empat Pemilik Perusahaan Diadili

Redaksi Redaksi
 Kasus Penipuan Investasi, Empat Pemilik Perusahaan Diadili

RIAUPEMBARUAN.COM -Perkara penipuan modus investasi dengan terdakwa empat orang pimpinan perusahaan serta seorang tenaga marketing. Senin (22/11/21) siang diadili di Pengadilan Negeri Pekanbaru.

Kelima terdakwa yang melakukan tindak pidana penipuan dengan kerugian total Rp84,9 miliar itu yakni, Bhakti Salim alias Bhakti selaku Direktur Utama PT Wahana Bersama Nusantara (WBN) dan Direktur Utama PT Tiara Global Propertindo Agung Salim alias Agung selaku Komisaris Utama PT Wahana Bersama Nusantara.

Kemudian Elly Salim alias Elly, Direktur PT Wahana Bersama Nusantara dan Komisaris PT Tiara Global Propertindo dan Christian Salim selaku Direktur PT Tiara Global Propertindo, serta Maryani selaku Marketing Freelance PT Wahana Bersama Nusantara dan PT Tiara Global Propertindo (penuntutan terpisah).

Sidang dengan agenda pembacaan dakwaan dari jaksa penuntut tersebut digelar secara virtual. para terdakwa mengikuti sidang dari Rutan Sialang Bungkuk.

Dalam persidangan yang dipimpin majelis hakim DR Dahlan SH MH. Tim taksa penuntut umum (JPU) Herlina Samosir SH dan Lastarida SH menyebutkan, perbuatan para terdakwa berawal tahun 2016 lalu. Dimana para terdakwa menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari pimpinan Bank Indonesia.

"PT WBN yang bergerak di bidang usaha consumer product dan PT TGP yang bergerak di bidang usaha properti bernaung di bawah Fikasa Group sedang membutuhkan tambahan modal untuk operasional perusahaan. Terdakwa Agung Salim yang menjabat sebagai Komisaris Utama PT WBN mencari ide untuk mendapatkan tambahan modal tersebut. Lalu diputuskan untuk menerbitkan promisorry note atas nama perusahaan yang ada dalam Fikasa Group, yaitu PT WBN dan PT TGP. Kemudian, terdakwa Agung Salim menyuruh (terdakwa) Maryani menjadi Marketing Freelance dari PT WBN dan TGP," ucap Herlina.

Atas arahan dari terdakwa Agung selaku pimpinan. Terdakwa Maryani kemudian mendatangi para korban pada Oktober 2016 di Pekanbaru untuk menawarkan investasi dengan bunga 9 persen sampai 12 persen per tahun dengan cara menjadi pemegang promissory note PT WBN dan PT TGP.

Saat menawarkan promossory note, Maryani mengiming-imingi bunga yang sangat tinggi melebihi bunga bank pada umumnya. Yang mana bank hanya memberi bunga 5 persen per tahun. Sedangkan Maryani menjanjikan bunga 6 sampai 12 persen per tahun, sehingga tabungan berbentuk promissory note ini lebih menguntungkan," ucapnya.

Setelah para nasabah menginvestasikan dananya ke PT WBN. Ternyata dana yang ditransfer bukan ke PT WBN namun ke rekening atas nama PT Inti Putra Fikasa.

Para nasabah yang telah menginvestasikan dananya diantaranya, S Napitupulu sebesar Rp 5 miliar, Berty Simanungkalit, Merianti dan Oki Genus Dea sebesar Rp2 miliar, dengan total nilai investasi dari nasabah mencapai Rp84,9 miliar.

Setelah dana diinvestasikan, para nasabah mendapatkan bukti penempatan berupa perjanjian promissory note dan certificate yang berisi nominal penempatan, bunga keuntungan, dan tanggal jatuh tempo. Dokumen itu ditandatangani terdakwa Bhakti Salim, Agung Salim, Elly Salim dan Christian Salim. Para nasabah juga diminta menandatangani bukti perjanjian itu.

Setelah beberapa tahun berjalan, bunga keuntungan untuk para nasabah mulai tak terealisasi. Merasa tertipu atas investasi dari terdakwa tersebut. Para terdakwa melaporkan kasus penipuan ini Mabes Polri.

"Atas perbuatannya, kelima terdakwa dijerat Pasal 372 Jo Pasal 64 ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP," jelas Herlina.

Selanjutnya, sidang ditunda selama sepekan. Melalui kuasa hukumnya, para berencana akan mengajukan eksepsi.*

Penulis: Redaksi

Editor: Suhadi

Sumber: Riauterkini