RIAUPEMBARUAN.COM -Skema investasi berbasis kecerdasan buatan bernama Sensenow AI (SNAI) yang sebelumnya menjanjikan keuntungan besar, kini berubah menjadi mimpi buruk bagi ratusan warga Kabupaten Bengkalis, Riau.
Pada Sabtu (7/2/2026), puluhan nasabah menggeruduk kantor Cabang SNAI di Desa Bukit Krikil, Kecamatan Bandar Laksamana, menuntut pengembalian dana yang tak kunjung bisa dicairkan.
Para korban mengaku sejak awal diyakinkan bahwa sistem trading digital berbasis AI yang ditawarkan SNAI mampu memberikan keuntungan cepat, stabil, dan berlipat ganda. Janji tersebut membuat banyak warga nekat menginvestasikan tabungan keluarga, bahkan menjual aset demi bergabung dalam skema tersebut.
Namun harapan itu runtuh ketika dana investasi tidak dapat ditarik. Akses akun nasabah disebut mendadak dibatasi, sementara pihak pengelola sulit dihubungi dan tidak memberikan kejelasan.
Di balik operasional Cabang SNAI Bukit Krikil, mencuat nama Johan Wahyudi, mantan anggota DPRD Bengkalis periode 2014??"2019, yang diketahui menjabat sebagai kepala cabang. Kantor investasi tersebut beralamat di RT 012 RW 03 Dusun II Desa Bukit Krikil.
Sejumlah korban menyebut Johan berperan aktif dalam merekrut investor. Statusnya sebagai mantan pejabat publik dinilai mampu membangun kepercayaan warga.
“Dia sendiri yang mempresentasikan sistemnya. Katanya ini investasi modern, aman, dan sudah terbukti menghasilkan. Karena dia mantan anggota dewan, kami tidak ragu,” ujar Aritonang, salah seorang korban.
Berdasarkan keterangan para nasabah, nilai investasi yang disetorkan bervariasi, mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah per orang. Total kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah, meski hingga kini belum ada perhitungan resmi dari pihak berwenang.
Tanda-tanda kejanggalan mulai dirasakan saat Johan Wahyudi mendadak sulit dihubungi. Pesan singkat tak dibalas, panggilan telepon tak diangkat. Warga yang mendatangi rumah maupun kantor cabang juga tidak menemukan keberadaannya.
Yang tersisa hanya sang istri, Susi, yang mengaku tidak mengetahui keberadaan Johan.
“Saya juga tidak tahu dia ke mana. Sudah seminggu tidak bisa dihubungi,” kata Susi kepada warga.
Hilangnya pengelola utama tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa investasi Sensenow AI berpotensi mengarah pada praktik penipuan berkedok trading digital.
Salah seorang nasabah dilaporkan telah membuat laporan resmi ke Polda Riau, dengan dugaan penipuan, penggelapan dana, dan penyalahgunaan kepercayaan publik.
Salah satu korban, Ricky, mengaku mentransfer uang investasi langsung ke rekening pribadi atas nama Johan Wahyudi.
“Kami setor uang ke rekening pribadi dia. Sekarang orangnya menghilang. Kami minta pertanggungjawaban,” tegas Ricky.
Hingga berita ini diterbitkan, manajemen pusat Sensenow AI belum memberikan pernyataan resmi terkait operasional cabang Bengkalis maupun dugaan kerugian para nasabah.
Para korban berharap aparat penegak hukum segera mengusut tuntas kasus ini, menelusuri aliran dana investasi, serta menghadirkan pihak-pihak yang bertanggung jawab ke hadapan hukum.
Kasus ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap investasi digital ilegal yang memanfaatkan teknologi, janji keuntungan instan, serta figur publik sebagai alat menarik kepercayaan.*
Penulis: Redaksi
Editor: Rezi AP