RIAUPEMBARUAN.COM - PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai menerima kunjungan rombongan Dewan Energi Nasional (DEN) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Senin (28/9). Kunjungan tersebut membahas pengembangan energi ramah lingkungan atau renewable energy guna mendukung agenda transisi energi nasional.
Rombongan dipimpin Anggota Dewan Energi Nasional, Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc., dan disambut Pjs Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Isnandhi Dwi Saputra, bersama jajaran manajemen perusahaan.
Kegiatan diawali dengan diskusi di Ruang Rapat Main Office Kilang Pertamina Dumai, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan (site visit) ke area kilang untuk melihat langsung fasilitas dan perkembangan inovasi energi yang dijalankan perusahaan.
Dalam pemaparannya, Isnandhi menyampaikan bahwa operasional Kilang Dumai berjalan normal dan optimal dengan kapasitas pengolahan mencapai 170 ribu barel per hari (MBSD).
Selain kinerja operasional, ia juga memaparkan sejumlah pencapaian Kilang Dumai dalam mendukung program Asta Cita Pemerintah, khususnya pengembangan energi ramah lingkungan, termasuk Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Menurutnya, sebagai bagian dari industri energi nasional, Kilang Dumai terus mempersiapkan transformasi menuju kilang yang lebih ramah lingkungan melalui berbagai inisiatif dan inovasi yang dikembangkan para Perwira Pertamina.
“Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai terus berinovasi dan melakukan pengembangan energi dalam rangka mendukung transisi energi nasional sekaligus menjaga keberlangsungan penyediaan energi bagi masyarakat,” ujar Isnandhi.
Ia menjelaskan, perjalanan pengembangan energi hijau di Kilang Dumai telah dimulai sejak 2015 melalui uji coba teknologi co-processing minyak sawit pada unit DHDT.
Inovasi tersebut menjadi langkah awal pengolahan bahan baku nabati menjadi bahan bakar minyak di lingkungan kilang Pertamina.
Pengembangan kemudian berlanjut melalui berbagai penelitian, termasuk dari aspek katalis. Pada 2019, Kilang Dumai berhasil menjadi satu-satunya kilang Pertamina yang mampu memproduksi Green Diesel (D100) atau Hydrotreated Vegetable Oil (HVO).
“Setelah itu, Kilang Dumai lebih difokuskan untuk dekarbonisasi dari aspek utility sehingga mulai beralih difokuskan di Kilang Cilacap,” jelasnya.
Di sisi lain, Kilang Dumai juga terus memperluas upaya transisi energi melalui pemanfaatan gas alam dan peningkatan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
“Kami mulai memanfaatkan natural gas agar ramah lingkungan. Dan kami juga terus meningkatkan penggunaan PLTS dan kini sudah 3,77 MWp baik di perumahan dan fasilitas produksi,” tambah Isnandhi.
Dalam kunjungan tersebut, perusahaan turut memaparkan pengembangan SAF melalui teknologi co-processing dengan memanfaatkan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah.
Proses tersebut dilakukan dengan komposisi injeksi UCO sebesar 5 persen pada unit Hydrocracker. Produk SAF yang dihasilkan Kilang Dumai juga telah memperoleh sertifikasi internasional dari International Sustainability and Carbon Certification (ISCC), yakni ISCC CORSIA dan ISCC EU.
“Dengan adanya produksi ini, Kilang Dumai membuktikan menjadi salah satu kilang andalan ramah lingkungan di Pertamina,” tegasnya.
Sementara itu, Anggota Dewan Energi Nasional, Unggul Priyanto, mengapresiasi sambutan serta berbagai inisiatif pengembangan energi ramah lingkungan yang telah dilakukan Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai.
Ia mengungkapkan, pemerintah saat ini tengah serius mendorong sejumlah program pengembangan energi alternatif, di antaranya bahan bakar E50 berbasis etanol hingga coal-to-liquid (CTL), yakni pengolahan batu bara menjadi bahan bakar cair.
“Program tersebut merupakan arahan dari Presiden. Hal itu karena dianggap termasuk yang paling cepat untuk menggantikan bensin. Walaupun tentunya tidak begitu saja tercapai, tapi ini nanti akan disusun roadmap ke depannya,” pungkas Unggul.
Melalui kunjungan DEN dan BRIN ini, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat inovasi dan pengembangan energi ramah lingkungan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap agenda Asta Cita Pemerintah dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional yang berkelanjutan.
Penulis: Redaksi
Editor: Rezi AP