PERJALANAN Wirani Rejosari memperlihatkan bahwa pemberdayaan dapat tumbuh dari lingkungan terdekat. Dari hidroponik, kelompok belajar merawat tanaman. Dari panel surya, mereka mengenal pemanfaatan energi terbarukan. Dari dapur produksi, mereka mengolah bahan pangan menjadi produk bernilai ekonomi.
Dukungan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai menjadi bagian dari upaya mengembangkan potensi tersebut. Namun, keberlanjutan kelompok juga bertumpu pada kemauan para anggotanya untuk terus belajar, menjaga mutu, dan mencari peluang pasar.
Tantangan masih ada. Harga bahan baku, kapasitas produksi, dan pemasaran menjadi pekerjaan yang harus terus dibenahi. Meski demikian, setiap tanaman yang tumbuh dan setiap produk yang selesai dibuat membawa arti lebih besar daripada nilai jualnya.
Di Tanjung Palas, para perempuan Wirani Rejosari sedang menumbuhkan kemandirian dari hulu hingga hilir. Mereka bukan hanya menanam sayuran dan menghasilkan produk, tetapi juga merawat keyakinan bahwa perempuan dapat menjadi penggerak ekonomi keluarga sekaligus membawa manfaat bagi masyarakat.
Produk yang tersusun di meja menjadi gambaran perjalanan Wirani Rejosari dari kegiatan sosial menuju usaha produktif. Pemasaran yang masih menghadapi tantangan tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus belajar, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas pasar. Bagi Yani, tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan produk, melainkan membangun kelompok yang mandiri dan tetap mampu berbagi kepada masyarakat.
Dari tanaman yang dirawat hingga produk yang siap dipasarkan, Wirani Rejosari memperlihatkan bahwa kemandirian tidak tumbuh dalam sehari. Ia dibangun melalui kerja bersama, keterampilan, dan kemauan untuk terus belajar. Di Tanjung Palas, para perempuan ini sedang menanam lebih dari sekadar sayuran, mereka menumbuhkan harapan bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Di antara hijaunya pakcoy dan selada, perempuan Wirani Rejosari menumbuhkan lebih dari sekadar sayuran. Sekitar 708 lubang tanam hidroponik menjadi bagian dari upaya mereka membangun kemandirian. Berawal dari kegiatan kader posyandu, kelompok ini perlahan mengembangkan aktivitas produktif yang menyatukan ketahanan pangan, kepedulian sosial, dan peluang ekonomi.Metadata foto : 8 Oktober 2026, Nikon D7200, F/4, S 1/5000, ISO 500

Tanaman yang tumbuh subur merupakan hasil dari ketekunan dan perawatan yang berkelanjutan. Di instalasi hidroponik, proses belajar berlangsung dari hari ke hari. Kegiatan ini membuka ruang bagi anggota kelompok untuk mengenal budidaya sayuran sekaligus mengembangkan potensi yang dapat mendukung kebutuhan dan aktivitas ekonomi masyarakat.Metadata foto : 8 Oktober 2026, Nikon D7200, F/4, S 1/3200, ISO 500

Di sisi instalasi tanaman, panel surya menjadi bagian dari pengembangan hidroponik yang lebih ramah lingkungan. Pemanfaatan energi matahari memberi pengalaman baru bagi kelompok dalam mengenal energi terbarukan. Pemberdayaan pun tidak berhenti pada kemampuan bercocok tanam, tetapi turut memperkenalkan pemanfaatan teknologi untuk mendukung kegiatan masyarakat.Metadata foto : 8 Oktober 2026, Nikon D7200, F/4, S 1/5000, ISO 500

Dari kegiatan budidaya, perjalanan kelompok berlanjut ke pengolahan produk. Di dapur produksi, para perempuan belajar meracik minuman, mengolah bahan pangan, dan menyiapkan produk untuk dipasarkan. Keterampilan yang terus diasah menjadi modal untuk memperluas usaha sekaligus menambah nilai dari kegiatan produktif yang mereka jalankan bersama.Metadata foto : 8 Oktober 2026, Nikon D7200, F/4, S 1/1600, ISO 500

Tangan-tangan terampil bekerja mengolah bahan, membentuk adonan, dan menyiapkan produk untuk diproses lebih lanjut. Pembuatan bakso ikan menjadi salah satu gambaran bagaimana kegiatan kelompok berkembang ke pengolahan pangan. Di ruang sederhana itu, kerja sama menjadi kekuatan untuk menjaga kualitas produk dan membangun kemampuan usaha secara bertahap.Metadata foto : 8 Oktober 2026, Nikon D7200, F/4, S 1/80, ISO 1100

Di balik setiap produk, ada kerja sama, ketekunan, dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Bagi Ketua Kelompok Wirani Rejosari, Yani, kemandirian bukan berarti berjalan sendiri, melainkan mampu mengembangkan potensi sambil tetap memberi manfaat kepada sesama. Dari kegiatan sosial hingga usaha produktif, para perempuan ini membangun masa depan dengan kemampuan mereka sendiri.Metadata foto : 8 Oktober 2026, Nikon D7200, F/4, S 1/1250, ISO 500

Budidaya dilakukan di dalam area greenhouse atau naungan semi-terbuka berkerangka besi/baja ringan, yang melindungi tanaman dari teriknya matahari langsung atau curah hujan berlebih namun tetap mendapatkan pencahayaan yang optimal.Metadata foto : 8 Oktober 2026, Nikon D7200, F/4, S 1/4000, ISO 500
Bagi Yani, perjalanan Wirani Rejosari bukan semata tentang tanaman yang tumbuh subur di dalam rumah hijau atau produk yang berhasil dipasarkan. Lebih dari itu, ada harapan agar setiap perempuan yang terlibat mampu berdiri di atas kaki sendiri, berbagi manfaat, dan membawa perubahan bagi lingkungan sekitarnya. “Kami ingin menjadi kader posyandu yang mandiri, berdaya dan bisa berbagi,” ujarnya.
Harapan itu sejalan dengan upaya PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Dumai dalam mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Area Manager Communication, Relations & CSR RU Dumai, Tengku Muhammad Rum, mengatakan, program pemberdayaan tidak cukup hanya menghadirkan sarana dan prasarana, tetapi juga harus membangun keterampilan, mengembangkan usaha, dan memastikan manfaatnya berkelanjutan.
Ia berharap Wirani Rejosari terus berkembang menjadi kelompok usaha yang mandiri, mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang lebih luas.
Sebab, dari rumah hijau yang dirawat bersama, tumbuh lebih dari sekadar sayuran dan hasil panen. Ada keberanian untuk berusaha, kemandirian yang perlahan dibangun, serta harapan agar kehidupan keluarga dan lingkungan sekitar menjadi lebih baik.*
Penulis: Rezi AP
Editor: Redaksi