MINYAK jelantah biasanya berakhir sebagai limbah. Setelah digunakan untuk menggoreng, sisa minyak itu kerap dianggap tak lagi memiliki nilai. Namun, di tangan teknologi pengolahan yang tepat, sesuatu yang semula tersisih tersebut dapat memperoleh kehidupan baru menjadi bahan baku untuk menghasilkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Di balik perubahan itu, ada teknologi yang terus dikembangkan, ada pekerja yang memastikan setiap tahapan berlangsung sesuai prosedur, dan ada tanggung jawab besar untuk menjaga agar inovasi tidak mengabaikan keselamatan manusia maupun lingkungan.
Di Kilang Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Dumai, Riau, perjalanan tersebut memasuki babak baru ketika uji coba pengolahan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah dilakukan pada 25 Juli 2026. Melalui unit Hydrocracker Unibon (HCU), kilang ini menjalankan plant trial dengan komposisi UCO sebesar lima persen dari total umpan untuk memproduksi SAF.
Angka lima persen itu mungkin tampak sederhana. Namun, di baliknya terdapat pekerjaan teknis yang membutuhkan persiapan proses, pengaturan operasi, kesiapan infrastruktur, serta pengendalian mutu. Bahan baku alternatif tidak bisa begitu saja dimasukkan ke dalam sistem tanpa mempertimbangkan karakteristiknya dan pengaruhnya terhadap proses pengolahan.
Di sinilah peran manusia menjadi penting. Teknologi membuka kemungkinan, tetapi pengetahuan, kecermatan, dan kedisiplinan para pekerja menentukan bagaimana kemungkinan itu diwujudkan.
Jr Engineer II HCU Plant Process Engineering Development, Farhan Hadi Putra, menjelaskan bahwa unit HCU Kilang Dumai mampu mengolah minyak jelantah hingga lima persen dari total umpan produksi melalui skema co-processing.
"Pemanfaatan minyak jelantah menjadi SAF merupakan salah satu upaya untuk mengoptimalkan teknologi pengolahan yang dimiliki kilang. Melalui unit HCU, minyak jelantah dapat diolah dengan skema co-processing hingga lima persen dari total umpan produksi," ujar Farhan, Kamis (08/10/2026).
Penerapan co-processing memungkinkan bahan baku alternatif diproses bersama bahan baku konvensional pada fasilitas kilang yang sesuai. Melalui pendekatan ini, infrastruktur yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan produk energi alternatif tanpa harus selalu membangun fasilitas pengolahan yang sepenuhnya terpisah.
Namun, proses tersebut bukan sekadar mencampurkan dua jenis bahan baku. Karakteristik minyak jelantah perlu diperhatikan, parameter operasi harus dikendalikan, dan produk akhir mesti diperiksa agar memenuhi persyaratan yang berlaku.
Minyak jelantah yang berasal dari berbagai sumber dapat memiliki karakteristik berbeda. Karena itu, pengelolaan bahan baku menjadi bagian penting sebelum minyak tersebut masuk ke proses pengolahan di kilang.
"Bahan baku benar-benar sesuai standar, kita tahu berbagai macam kotoran ada pada minyak jelantah," papar Farhan di hadapan peserta media visit di Kilang RU Dumai.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa perjalanan dari limbah menuju bahan bakar tidak berlangsung secara instan. Ada tahapan pemeriksaan dan pengendalian yang harus dilalui agar bahan baku alternatif dapat diproses sesuai kebutuhan fasilitas.
Hasil pengujian produk yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut mencakup freezing point minus 59 derajat Celsius dan flash point 47 derajat Celsius. Parameter itu merupakan bagian dari pemeriksaan teknis yang perlu dibaca berdasarkan metode pengujian dan spesifikasi yang digunakan.
Bagi masyarakat, istilah seperti freezing point, densitas, dan flash point mungkin terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, dalam dunia penerbangan, karakteristik bahan bakar merupakan hal mendasar. Bahan bakar yang ditujukan untuk penerbangan harus memenuhi persyaratan teknis yang ketat karena berkaitan dengan keandalan penggunaannya dalam kondisi operasional pesawat.
"Keberhasilan mengolah minyak jelantah bukan hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga oleh kemampuan memastikan produk tersebut memenuhi persyaratan mutu dan keselamatan," terangnya dalam materi yang ditampilkan melalui videotron.
Bagi Kilang Dumai, pengembangan SAF bukan sekadar memperkenalkan produk baru. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya memanfaatkan teknologi yang tersedia untuk mengolah bahan baku alternatif sekaligus memperluas pilihan produk energi.
Dokumentasi perusahaan mencatat pengembangan bioavtur dengan komposisi UCO sebesar tiga persen di Kilang Cilacap pada 2025. Sementara itu, Kilang Dumai menjalankan plant trial dengan komposisi lima persen pada 2026.
Menurut Farhan, dengan basis perhitungan yang sama, proporsi UCO dalam uji coba di Dumai lebih tinggi dua poin persentase dibandingkan komposisi tiga persen yang tercatat di Cilacap. Perbandingan tersebut menunjukkan peningkatan proporsi bahan baku alternatif dalam proses yang dilaporkan, meskipun tidak serta-merta berarti volume SAF jadi yang dihasilkan Dumai lebih besar.
"Pengembangan ini membuka peluang untuk memperluas pemanfaatan bahan baku alternatif sekaligus meningkatkan nilai guna limbah. Minyak jelantah yang sebelumnya dianggap tidak lagi berguna dapat masuk ke dalam rantai pasok industri apabila dikumpulkan, dikelola, dan diproses sesuai persyaratan," tegas Farhan.
Farhan juga menyampaikan bahwa SAF produksi Kilang Dumai telah memperoleh sertifikasi internasional ISCC CORSIA dan ISCC EU melalui Intertek. Sertifikasi yang berkaitan dengan keberlanjutan dan ketertelusuran rantai pasok tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan bahan bakar berkelanjutan, sesuai ruang lingkup sertifikat yang dimiliki.
Teks Foto:Ajie Fadhail berada di ruang kontrol Kilang Pertamina RU Dumai, memantau proses operasional untuk memastikan pengolahan energi berjalan aman dan sesuai prosedur.
"Label berkelanjutan tidak cukup hanya ditentukan oleh bahan baku yang digunakan. Asal usul bahan baku, proses pengolahan, kebutuhan energi, serta keseluruhan rantai pasok turut memengaruhi manfaat lingkungan yang dapat dicapai," jelas Farhan.
Dalam konteks yang lebih luas, pengembangan SAF menjadi bagian dari upaya membangun bisnis rendah karbon. Sektor penerbangan membutuhkan bahan bakar dengan karakteristik khusus, sementara industri energi dituntut mencari pilihan yang berpotensi menekan emisi sepanjang siklus hidupnya.
"SAF dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung upaya tersebut apabila diproduksi melalui jalur yang memenuhi persyaratan keberlanjutan. Meski demikian, SAF belum serta merta menggantikan seluruh kebutuhan avtur konvensional. Ketersediaan bahan baku, biaya produksi, infrastruktur, serta pemenuhan standar penerbangan tetap menjadi tantangan yang harus dijawab," ungkap Farhan.
Pemanfaatan minyak jelantah dengan demikian membawa dua pekerjaan sekaligus, mengembangkan teknologi pengolahan dan memastikan bahan baku alternatif tersebut dikelola melalui rantai pasok yang bertanggung jawab. Potensi manfaatnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang keluar dari unit pengolahan, tetapi juga oleh bagaimana bahan baku diperoleh dan diproses.
Di dalam kilang, perubahan proses tidak berlangsung begitu saja. Ada perwira yang setiap hari memantau operasi, membaca perubahan parameter, dan memastikan proses berjalan sesuai ketentuan.
Salah satunya Ajie Fadhail, perwira Pertamina Kilang Dumai yang bertugas di unit HCU. Sebagian pekerjaannya berlangsung di ruang kendali, tempat operasional dipantau melalui sistem Distributed Control System (DCS).
Bagi Ajie Fadhail, perwira Pertamina Kilang Dumai yang bertugas di area Hydrocracking Unit (HCU), tanggung jawab itu dimulai bahkan sebelum memasuki area kilang. Keselamatan menjadi prioritas utama yang harus dipastikan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja, kebersihan diri, hingga penggunaan alat pelindung diri (APD) sesuai ketentuan.
"Jadi prioritas utama kami, dimulai dari melakukan daily check up untuk memastikan kondisi kesehatan pekerja, menjaga kebersihan tubuh, hingga memastikan penggunaan APD yang lengkap," ujar Ajie dalam video Life at Pertamina kilang Dumai.
Baginya, keselamatan bukan sekadar prosedur yang harus dipenuhi sebelum bekerja. Setiap langkah pencegahan menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh pekerja dapat menjalankan tugas dengan aman di lingkungan kilang yang memiliki risiko operasional tinggi.
Setelah memastikan aspek keselamatan, tugas Ajie berlanjut ke ruang kendali atau control room. Di tempat inilah berbagai parameter proses pengolahan dipantau secara saksama melalui sistem Distributed Control System (DCS).
Sebagai perwira yang bertugas di area HCU, Ajie memantau sejumlah parameter proses pengolahan nafta, mulai dari suhu, tekanan, laju alir, hingga level. Seluruh indikator tersebut harus terus diperhatikan untuk memastikan proses operasional berjalan sesuai ketentuan.
"Di sini saya bertugas memantau operasional kilang melalui sistem DCS. Berbagai parameter proses pengolahan nafta seperti suhu, tekanan, laju alir hingga level terus dipantau untuk memastikan operasional kilang berjalan aman, lancar, dan andal," jelas Ajie.
Pemantauan tersebut menuntut ketelitian dan konsentrasi. Perubahan parameter proses perlu diperhatikan agar kondisi operasi tetap terkendali. Di balik layar sistem kendali yang menampilkan angka dan indikator, terdapat tanggung jawab untuk menjaga proses pengolahan berjalan sesuai standar keselamatan dan keandalan.
Namun, bagi Ajie, menjadi perwira Pertamina tidak hanya berkaitan dengan satu tugas di tempat kerja. Ada tanggung jawab lain yang perlu dijalankan, termasuk menjaga kebugaran tubuh agar tetap siap menghadapi tuntutan pekerjaan.
Salah satu caranya adalah melalui olahraga panahan. Aktivitas ini bukan hanya menjadi sarana menjaga kesehatan, tetapi juga kesempatan bagi Ajie untuk membawa nama Kilang Pertamina Dumai melalui bidang olahraga.
"Buat saya, panahan bukan sekadar hobi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membawa nama Kilang Pertamina Dumai," ungkap Ajie.
Panahan membutuhkan fokus, ketenangan, dan konsistensi. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari aktivitas yang dijalaninya di luar pekerjaan, sekaligus mendukung upayanya menjaga kondisi fisik tetap prima.
“Menjaga tubuh tetap sehat dan bugar bukan sekadar untuk diri sendiri, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sebagai perwira Pertamina. Karena di balik setiap pekerjaan yang kita lakukan, ada energi yang harus terus dijaga,” tutur Ajie.
Kisah Ajie memperlihatkan bahwa pekerjaan di lingkungan kilang tidak hanya berkutat pada teknologi dan proses pengolahan. Ada kedisiplinan dalam menerapkan keselamatan, ketelitian dalam memantau operasional, serta kesadaran untuk menjaga kesehatan sebagai bagian dari tanggung jawab profesional.
Bagi pekerja yang berada di dekat peralatan proses, jaringan pipa, dan fasilitas pengolahan, keselamatan bukan sekadar slogan yang terpampang di dinding. Keselamatan hadir dalam keputusan sehari-hari, mulai dari memastikan pekerjaan sesuai prosedur, mengenali potensi bahaya, memeriksa peralatan, hingga menghentikan pekerjaan ketika kondisi dinilai tidak aman.
Teks Foto:Petugas melakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan tamu sebelum memasuki area operasional Kilang Pertamina RU Dumai sebagai bagian dari penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja (HSSE).
Industri pengolahan minyak memiliki risiko yang membutuhkan pengendalian secara konsisten. Perubahan jenis bahan baku maupun pengaturan proses harus disertai evaluasi risiko, kesiapan fasilitas, dan pengawasan yang memadai.
Di sinilah fungsi Health, Safety, Security and Environment (HSSE) memiliki peran penting. Bukan hanya mengawasi kepatuhan terhadap aturan, melainkan membangun budaya kerja yang membuat setiap orang memahami bahwa keselamatan dirinya berkaitan erat dengan keselamatan rekan-rekannya.
Dalam kegiatan media visit yang sama, Section Head Safety HSSE, Chusni Mubarok, menekankan pentingnya menempatkan keselamatan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari inovasi industri.
"Dalam operasional kilang, inovasi dan keselamatan harus berjalan beriringan. Setiap proses pengolahan harus dilaksanakan sesuai prosedur, dengan identifikasi bahaya, pengendalian risiko, serta kesiapan menghadapi kondisi darurat. Target produksi memang penting, tetapi keselamatan pekerja, keandalan fasilitas, dan perlindungan lingkungan tetap menjadi prioritas," ujar Chusni.
Penerapan standar HSSE kelas dunia tidak cukup diukur dari kelengkapan dokumen atau ketersediaan peralatan keselamatan. Standar tersebut perlu tercermin dalam perilaku, konsistensi pengawasan, evaluasi terhadap potensi bahaya, dan kesediaan setiap pekerja untuk saling mengingatkan.
"Ketika seorang pekerja mengingatkan rekannya untuk memeriksa kembali kondisi peralatan, misalnya, tindakan itu bukan sekadar rutinitas. Ada kepedulian terhadap orang lain yang ikut menjaga keberlangsungan pekerjaan," tegas Chusni melalui paparan materinya.
Lanjutnya, keselamatan juga berhubungan dengan perlindungan lingkungan. Pengelolaan bahan baku, pencegahan tumpahan, penanganan limbah, dan pengendalian dampak operasional merupakan bagian dari tanggung jawab industri. Inovasi yang membawa nama keberlanjutan harus diiringi upaya nyata untuk mengelola risiko dan dampak yang mungkin ditimbulkan.
Karena itu, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada tercapainya target produksi atau dihasilkannya produk baru. Keberhasilan juga berarti memastikan pekerja dapat menjalankan tugasnya dengan aman, fasilitas beroperasi secara andal, dan risiko terhadap lingkungan dikendalikan.
Di balik setiap angka produksi, terdapat orang-orang yang bekerja dengan prosedur, keahlian, dan tanggung jawab. Mereka menjadi bagian penting dari perjalanan inovasi yang sering kali lebih dikenal masyarakat melalui hasil akhirnya.
"Keselamatan dan teknologi saja tidak cukup untuk membawa industri menghadapi masa depan. Perubahan proses produksi juga menuntut kesiapan sumber daya manusia," tegas Chusni.
Pengembangan bisnis rendah karbon membawa kebutuhan baru terhadap kompetensi teknis, kemampuan memahami proses yang kompleks, serta keterampilan berkolaborasi lintas fungsi. Para pekerja perlu memperoleh ruang untuk belajar, meningkatkan kemampuan, dan beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang.
Transformasi energi pada akhirnya juga merupakan transformasi manusia. Mesin dan fasilitas dapat diperbarui, tetapi pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan mengambil keputusan harus terus dikembangkan.
Di sinilah pengembangan sumber daya manusia dan prinsip Diversity, Equity, and Inclusion (DEI) keberagaman, kesetaraan, dan inklusi menjadi relevan.
Industri energi membutuhkan beragam keahlian dan sudut pandang. Keberagaman membuka ruang bagi pengalaman yang berbeda, kesetaraan mendorong kesempatan yang adil untuk berkembang, sedangkan inklusi memastikan setiap orang memiliki ruang untuk berpartisipasi dan memberikan kontribusi.
DEI bukan semata-mata persoalan siapa yang bekerja di sebuah perusahaan. Prinsip ini juga menyangkut bagaimana kesempatan pelatihan diberikan, bagaimana kompetensi dinilai, dan bagaimana lingkungan kerja memungkinkan setiap pekerja berkembang berdasarkan kemampuan serta tanggung jawabnya.
Dalam lingkungan kilang yang memiliki standar keselamatan tinggi, kesempatan untuk belajar dan berkembang harus berjalan seiring dengan persyaratan kompetensi. Lingkungan kerja inklusif bukan berarti mengurangi standar, melainkan membuka kesempatan yang adil bagi pekerja untuk memenuhi standar tersebut dan menunjukkan kemampuannya.
Ketika industri memasuki era pengembangan energi rendah karbon, kebutuhan terhadap manusia yang mampu belajar dan beradaptasi semakin penting.Kemampuan teknis harus dibarengi keterbukaan terhadap pengetahuan baru, komunikasi yang baik, dan kemauan bekerja bersama untuk memecahkan persoalan.
Pengalaman media visit di Kilang Dumai memberi kesempatan kepada peserta untuk mengenal sejarah kilang sekaligus melihat perkembangan transformasi energi yang dilakukan para perwira Pertamina. Dalam peninjauan area kilang, pembicaraan mengenai keselamatan tidak hanya disampaikan sebagai konsep, tetapi menjadi bagian dari penjelasan mengenai aktivitas dan lingkungan kerja industri.
Di sisi lain, pengembangan teknologi juga memerlukan komunikasi yang tepat agar masyarakat memahami perubahan yang sedang berlangsung. Inovasi energi bukan proses yang berdiri sendiri. Ada aspek teknis, keselamatan, rantai pasok, keberlanjutan, dan kesiapan manusia yang harus berjalan bersama.
Area Manager Communication, Relations & CSR, Tengku Muhammad Rum, menjadi bagian dari upaya komunikasi perusahaan dalam menyampaikan perkembangan industri, keberlanjutan, dan hubungan dengan para pemangku kepentingan.
Teks Foto:Area Manager Communication, Relations & CSR, Tengku Muhammad Rum, didampingi Junior Officer Ainun Nabila, menunjukkan produk Sustainable Aviation Fuel (SAF) hasil pengembangan Kilang Pertamina RU Dumai dari pengolahan minyak jelantah.
"Pengembangan SAF menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan bahan baku alternatif di sektor energi. Minyak jelantah yang sebelumnya dipandang sebagai limbah memiliki potensi untuk memberikan nilai tambah ketika dikelola dengan baik. Ke depan, inovasi seperti ini diharapkan dapat mendukung agenda keberlanjutan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional," ujar Tengku.
Menurut Tengku, komunikasi yang akurat membantu menjelaskan bahwa pengembangan energi berkelanjutan tidak berlangsung dalam satu tahap. Ada teknologi yang harus dikembangkan, bahan baku yang harus dikelola, standar yang harus dipenuhi, dan manusia yang harus terus dipersiapkan.
"Peran komunikasi dan hubungan eksternal juga penting dalam membangun pemahaman masyarakat tentang arah transformasi industri energi. Sementara itu, pengembangan SDM dan DEI memerlukan bukti nyata berupa program, kesempatan belajar, serta pengalaman pekerja yang menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip tersebut dijalankan," ungkap Tengku.
Ketiga agenda bisnis rendah karbon, keselamatan, dan pengembangan manusia bukanlah agenda yang berdiri sendiri. Ketika bahan baku alternatif mulai digunakan, pekerja perlu memahami prosesnya. Ketika teknologi berkembang, sistem keselamatan harus menyesuaikan. Ketika tuntutan kompetensi meningkat, kesempatan untuk belajar dan berkembang harus tersedia secara adil.
"Semua itu membentuk satu kesatuan dalam perjalanan industri energi menuju masa depan," tutup pria berdarah melayu itu.
Pengembangan SDM dan DEI pada akhirnya perlu terlihat dalam praktik, bukan berhenti sebagai istilah dalam dokumen atau komunikasi perusahaan. Kesempatan belajar, peningkatan kompetensi, penghargaan terhadap kemampuan, dan lingkungan kerja yang memungkinkan setiap orang berkontribusi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan industri menghadapi perubahan.
Dengan demikian, perjalanan menuju bisnis rendah karbon bukan hanya soal mengganti atau menambahkan bahan baku. Perjalanan tersebut juga menuntut perubahan cara kerja, peningkatan pengetahuan, dan budaya organisasi yang mendukung keselamatan serta pembelajaran berkelanjutan.
Langkah Kilang Dumai memperoleh momentum penting ketika produk SAF diperkenalkan dalam kegiatan Management Walkthrough pada Kamis, 15 Oktober 2026. Dalam kegiatan tersebut, Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, meluncurkan SAF hasil pengembangan Kilang Dumai.
Peluncuran itu menjadi penanda bahwa upaya pengolahan minyak jelantah telah bergerak dari tahap uji coba menuju pengembangan produk yang memiliki peluang untuk memasuki pasar bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Bagi industri, tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan kemampuan teknis dalam mengolah bahan baku alternatif. Ketersediaan feedstock yang berkelanjutan, pengelolaan rantai pasok, pemenuhan sertifikasi, dan kesiapan pasar juga menjadi faktor penting agar pengembangan SAF dapat berlanjut.
"Keberhasilan Kilang Dumai dalam mengembangkan SAF dengan UCO 5 persen ini membuktikan bahwa Perwira Pertamina mampu menjawab tantangan dan kebutuhan dunia industri hari ini. Kini, kita fokus dalam strategi bagaimana mendapatkan feedstock yang sustain dan tentunya tersertifikasi, karena ini bisa menjadi revenue industri yang baru di Indonesia," ujar Taufik.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pengembangan SAF tidak berhenti pada teknologi pengolahan. Bahan baku yang tersedia harus dapat memenuhi kebutuhan industri secara berkelanjutan dan memiliki ketertelusuran yang memadai. Tanpa rantai pasok yang andal, potensi produksi sulit dikembangkan secara konsisten.
Executive General Manager RU Dumai, Iwan Kurniawan, menilai keberhasilan ini sebagai bagian dari kesiapan kilang menghadapi perubahan industri energi sekaligus memperkuat prinsip keberlanjutan.
"Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Kilang Dumai adaptif terhadap tantangan transformasi global dan prinsip keberlanjutan. Persiapan yang dilakukan secara matang dan komprehensif, termasuk sertifikasi ISCC yang menjadi bukti bahwa SAF yang dihasilkan dari Kilang Dumai sudah memenuhi persyaratan keberlanjutan dan dapat diterima serta siap diperdagangkan di pasar global," jelas Iwan.
Kilang Dumai dilaporkan memiliki kapasitas produksi SAF sebesar 11,3 MBSD atau 11.300 barel per hari, sedangkan Kilang Cilacap memiliki kapasitas 9 MBSD. Secara gabungan, kapasitas yang disebutkan mencapai 20,3 MBSD. Angka kapasitas tersebut perlu dipahami sesuai dasar perhitungan dan cakupan fasilitas yang dimaksud, bukan otomatis sebagai volume aktual SAF yang diproduksi setiap hari.
Pengembangan SAF juga memiliki potensi pengurangan emisi karbon hingga 81 persen berdasarkan perhitungan dan metodologi yang digunakan. Potensi ini tetap bergantung pada bahan baku, proses produksi, kebutuhan energi, serta batasan perhitungan emisi sepanjang siklus hidup bahan bakar.
Sertifikasi ISCC EU dan ISCC CORSIA melalui Intertek menjadi bagian penting dalam pemenuhan persyaratan keberlanjutan dan ketertelusuran rantai pasok. Bagi produk yang diarahkan ke pasar internasional, aspek tersebut ikut menentukan bagaimana bahan baku dan proses pengolahan dapat dibuktikan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Ke depan, pengembangan SAF diharapkan ikut mendukung target pemanfaatan SAF sebesar satu persen pada 2027 serta ambisi Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060. Target tersebut membutuhkan kesiapan teknologi, pasokan bahan baku, dukungan kebijakan, dan kerja sama berbagai pihak agar pengembangan bahan bakar berkelanjutan dapat tumbuh secara bertahap.
Namun, di balik kapasitas fasilitas, angka komposisi UCO, sertifikasi, dan target pengembangan, ada pekerjaan yang tidak selalu terlihat dari luar pagar kilang. Ada pekerja yang mempersiapkan proses, memantau parameter operasi, memastikan keselamatan, memeriksa mutu, serta menyampaikan informasi kepada para pemangku kepentingan.
Dari unit HCU Kilang Dumai, minyak jelantah memperoleh kesempatan untuk kembali bernilai. Makna dari upaya tersebut tidak berhenti pada perubahan limbah menjadi bahan baku energi. Ada usaha mengembangkan teknologi, menjaga keselamatan, memperkuat kompetensi, dan membangun lingkungan kerja yang memberi ruang bagi setiap orang untuk berkontribusi.
Teks Foto:Wakil Direktur PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, bersama Executive General Manager (EGM) Kilang Pertamina RU Dumai, Iwan Kurniawan, saat peluncuran produk Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak jelantah.
Perubahan semacam ini mungkin tidak selalu terlihat oleh masyarakat. Tidak semua orang menyaksikan persiapan teknis, pengawasan keselamatan, pemeriksaan mutu, atau proses pembelajaran yang menyertai inovasi. Namun, semuanya merupakan bagian dari pekerjaan panjang yang menentukan apakah sebuah teknologi dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Di tengah pembicaraan tentang ketahanan energi nasional, manusia kerap luput dari sorotan karena perhatian lebih banyak tertuju pada angka produksi, kapasitas fasilitas, dan pencapaian teknologi. Padahal, di balik setiap capaian tersebut, ada orang-orang yang memastikan proses berjalan, mengendalikan risiko, dan terus menambah pengetahuan.
Dari Dumai, perjalanan menuju energi rendah karbon memperlihatkan bahwa masa depan tidak hanya dibangun melalui teknologi yang lebih maju. Masa depan juga membutuhkan budaya keselamatan yang kuat, manusia yang terus berkembang, serta lingkungan kerja yang memberikan kesempatan secara adil.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan transformasi energi bukan hanya tentang apa yang dapat dihasilkan sebuah kilang. Lebih dari itu, keberhasilan terletak pada bagaimana perubahan tersebut dijalankan dengan aman, bertanggung jawab, dan melibatkan manusia sebagai bagian terpenting dari perjalanan menuju masa depan energi nasional.
SAF Pertamina telah digunakan dalam penerbangan dari Bandara Soekarno - Hatta, Tangerang, oleh Pelita Air pada rute Jakarta - Bali, serta dimanfaatkan Virgin Australia di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Sebelumnya, Garuda Indonesia juga melakukan uji terbang menggunakan bioavtur Pertamina pada 2023.
"Jadi dengan minyak jelantah kita mengudara dan membuat langit lebih bersih, mengurangi emisi karbon," tutup Farhan dalam pertemuan media visit.
Minyak jelantah mungkin hanya sisa dari kegiatan sehari-hari. Namun, ketika dikelola dengan teknologi dan tanggung jawab yang tepat, ia dapat menjadi bagian dari cerita yang lebih besar, upaya menjaga energi, merawat keselamatan, dan menyiapkan manusia menghadapi masa depan.
Dari minyak jelantah, sebuah perjalanan menuju langit dimulai dengan teknologi sebagai penggerak, keselamatan sebagai pijakan, dan manusia sebagai inti perubahan.*
Penulis: Rezi AP
Editor: Redaksi