RIAUPEMBARUAN.COM - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite kembali dikeluhkan masyarakat di Pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau. Dampaknya mulai dirasakan warga, bahkan sejumlah anak sekolah disebut terpaksa tidak berangkat karena kehabisan bahan bakar untuk kendaraan.
Keluhan tersebut disampaikan Ikhsan Suganda, warga salah satu desa terpencil di Kabupaten Bengkalis, melalui unggahan media sosialnya, Senin (26/10/2026). Ia mengaku prihatin karena persoalan kelangkaan BBM yang terus berulang seolah belum menemukan penyelesaian.
“BBM langka lagi, dah berapa orang anak sekolah tak jadi pegi sekolah pagi ni karena minyak tak ada. Langka tanpa pemberitahuan, emak-emak ngeret onda dah banyak juge pagi ni,” tulis Ikhsan.
Menurutnya, bagi masyarakat kecil, persoalan BBM bukan sekadar harga, melainkan juga ketersediaan. Warga mungkin masih bisa bertahan ketika harga bahan bakar mahal, tetapi akan kesulitan ketika BBM benar-benar tidak tersedia.
Padahal, bahan bakar menjadi kebutuhan penting untuk menunjang berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari mengantar anak ke sekolah, bekerja, hingga mendukung pelayanan kesehatan.
“BBM mahal tak sesuai harga Pertamina masih bisa ditahan, tapi kalau dah tak ade, siape yang tahan. Siswa nak sekolah, ambulan nak antar orang sakit, orang tua nak pegi kerja, guru nak pergi ngajar,” lanjutnya.
Kekecewaan itu juga disampaikannya melalui sindiran mengenai kondisi yang dihadapi masyarakat.
“Apakah kami harus mengolah brondol sawit ni jadi Pertamax Turbo?” tulisnya.
Keluhan tersebut menggambarkan keresahan warga yang aktivitas sehari-harinya bergantung pada ketersediaan bahan bakar. Ketika pasokan sulit diperoleh, masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat kota berpotensi menghadapi kendala lebih besar karena terbatasnya akses untuk mendapatkan BBM.
Pada Selasa (27/10/2026) pagi, antrean kendaraan juga terlihat di salah satu pom mini di Jalan Gatot Subroto, Bengkalis. Kondisi tersebut menambah gambaran kesulitan warga dalam mendapatkan bahan bakar di tengah kelangkaan yang dikeluhkan.
Pulau Bengkalis memiliki empat stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Namun, keberadaan fasilitas tersebut belum tentu menjamin akses BBM yang merata bagi seluruh masyarakat, terutama warga yang tinggal jauh dari pusat kota.
Di sejumlah wilayah, pengecer menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk mendapatkan bahan bakar ketika jarak menuju SPBU cukup jauh. Karena itu, ketersediaan BBM tidak hanya berkaitan dengan jumlah pasokan, tetapi juga kelancaran distribusi hingga ke wilayah permukiman.
Persoalan ini membutuhkan perhatian dari pihak terkait, terutama untuk memastikan kecukupan stok, kelancaran penyaluran, serta pemerataan distribusi Pertalite agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Warga berharap pasokan BBM segera kembali normal sehingga aktivitas pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan kesehatan tidak terus terganggu akibat sulitnya mendapatkan bahan bakar.
Penulis: Eru Kurniawan
Editor: Redaksi