HALAMAN kecil Posyandu Kelurahan Jaya Mukti, Kecamatan Dumai Timur, aroma daun selada basah dan ikan patin rebus bercampur di udara. Di bawah atap seng sederhana, beberapa ibu sibuk menakar tepung sorgum dan mengaduk adonan brownies, sementara yang lain memotong sayuran hasil panen hidroponik dari drum plastik bekas.
Pagi itu, mereka bukan sekadar ibu rumah tangga, tapi pejuang gizi anggota kelompok SEHATI yang kini menjelma menjadi Wirani Rejosari, simbol kebangkitan ekonomi dan kesehatan warga Dumai.
Tahun 2024 menjadi titik bersejarah bagi Kota Dumai. Di tengah sorotan nasional, kota pelabuhan di pesisir Riau ini menerima Dana Insentif Fiskal (DIF) senilai Rp5,8 miliar dari pemerintah pusat atas keberhasilannya menurunkan angka stunting dari 24 persen menjadi 12 persen hanya dalam satu tahun.
Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Wakil Presiden RI K.H. Ma’ruf Amin, didampingi Menko PMK Muhadjir Effendy, dalam Rapat Koordinasi Nasional Stunting 2024 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta. Dumai pun tercatat sebagai satu-satunya daerah di Provinsi Riau yang meraih penghargaan tersebut.
Namun di balik podium dan data statistik, ada kisah lain yang tak kalah penting tentang tangan-tangan perempuan yang bekerja tanpa lelah di dapur sederhana mereka.
"Awalnya kami cuma ingin anak-anak di sekitar sini tidak kekurangan gizi. Tahun 2019, kami sering kehabisan biaya untuk membuat makanan tambahan bagi balita. Lalu kami pikir, kenapa tidak buat sendiri?" ujar Yani, Ketua Kelompok SEHATI, sambil menata kemasan keripik patin di rak bambu kecil.
Bersama ibu-ibu dari 13 posyandu di dua kelurahan, Yani membentuk kelompok Sehati. Mereka kemudian mengajukan proposal ke PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Dumai, yang saat itu tengah menjalankan program tanggung jawab sosial di sekitar wilayah operasionalnya.
PT KPI merespons cepat. Mereka tidak menyalurkan dana tunai, tapi menawarkan hal yang lebih bernilai seperti pengetahuan, fasilitas, dan pendampingan.
"Kami dilatih menanam hidroponik, membudidayakan ikan patin, sampai membuat olahan makanan sehat. Awalnya sulit, tapi lama-lama terbiasa. Sekarang malah jadi usaha yang bisa bantu ekonomi keluarga," kata Yani.
Dengan kreativitas tanpa batas, para anggota Sehati mengubah drum plastik bekas menjadi kolam ikan. Dari situ lahir olahan bergizi seperti nugget patin, bakso patin, brownies sorgum, dan jus sayuran segar. Semua hasil produksi dibagikan gratis kepada anak-anak penderita stunting dan balita di bawah garis merah (BGM).
Selama lima tahun berjalan, upaya mereka membuahkan hasil luar biasa. Setiap tahun, belasan hingga puluhan anak di Jaya Mukti dan Tanjung Palas keluar dari status gizi buruk.
"Kami seperti menemukan makna baru jadi ibu. Anak orang lain sehat, hati kami juga ikut kenyang," ujar salah satu anggota, Lina, sambil tertawa kecil.
Melihat dampak besar program ini, PT KPI mendorong Sehati berkembang menjadi kelompok baru dengan visi lebih luas, Wirani Rejosari. Kini mereka tidak hanya fokus pada anak-anak stunting, tapi juga membantu ibu hamil, lansia, serta memperkuat perekonomian keluarga.
"Kami ingin para ibu tak hanya menolong, tapi juga mandiri. Lewat pelatihan UMKM, pengemasan produk, dan dukungan fasilitas, mereka kini bisa meraup omzet hingga Rp 40 juta di tahun 2025," jelas Agustiawan, Area Manager Communication, Relations & CSR PT KPI Unit Dumai.
Dikatakannya, kelompok binaan KPI Unit Dumai itu memiliki beragam produk diantaranya, mie sorgum, keripik patin, biskuit sorgum, nugget patin, hingga jus pakcoy dan nenas.
Semua dikemas menarik dan telah dipasarkan melalui berbagai kegiatan promosi, salah satunya di Rumah BUMN Dumai wadah pengembangan UMKM binaan Pertamina.
Rumah BUMN Dumai menjadi pusat sinergi antara PT KPI dan ratusan pelaku usaha kecil di sekitar kilang. Diresmikan pada 29 April 2025 oleh Vice President CSR & SMEPP Management PT Pertamina (Persero) Rudi Ariffianto, fasilitas ini menyediakan ruang pelatihan, pendampingan legalitas, hingga sertifikasi halal dan NIB bagi para pelaku usaha.
"Legalitas ini penting. Selain meningkatkan kepercayaan konsumen, juga membuka akses pembiayaan dari bank," kata Agustiawan.
Saat ini, terdapat sekitar 100 UMKM binaan Rumah BUMN Dumai yang bergerak di berbagai sektor: kuliner, kerajinan, hingga produk kreatif. Para pelaku UMKM ini rutin diikutsertakan dalam berbagai kegiatan, mulai dari Fun Bike Pertamina hingga Dumai Expo, untuk mempromosikan produk mereka secara langsung kepada masyarakat.
Selain itu, Kilang Pertamina Dumai juga rutin mengadakan pelatihan pengembangan bisnis melalui program Pertamina UMK Academy, yang membekali peserta dengan ilmu Business Model Canvas dan strategi komunikasi bisnis.
“Inisiatif ini bagian dari dukungan kami terhadap tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta Kemitraan untuk Mencapai Tujuan,” jelas Agustiawan.
Program pemberdayaan ini tidak berdiri sendiri. Melalui kolaborasi dengan kelompok Alam Tani, yang berhasil mengembangkan tanaman sorgum di lahan gambut pertama di Riau, PT KPI menciptakan rantai ekonomi yang saling menguatkan.
Hasil panen sorgum dari Alam Tani kini diolah oleh Wirani Rejosari menjadi bahan makanan bernilai jual tinggi dari dapur sederhana menjadi produk unggulan.
“Sebagai tulang punggung energi nasional, kami ingin tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Energi itu bukan cuma dari minyak, tapi juga dari semangat manusia yang tak pernah berhenti berbuat baik,” ujar Audina Reihan, Community Development Officer PT KPI Unit Dumai.
Kini, setiap pagi di Posyandu Rejosari, aroma brownies sorgum dan nugget patin masih sama seperti dulu. Tapi di balik setiap aroma itu tersimpan kebanggaan besar, bahwa perubahan bisa lahir dari tangan-tangan sederhana dari ibu-ibu yang tak menyerah memberi kehidupan lebih baik bagi generasi berikutnya.
Dari Dumai, kisah ini menular. Bahwa pemberdayaan bukan sekadar bantuan, tapi perjalanan menuju kemandirian. Di sanalah sejatinya, makna pembangunan dimulai: dari dapur, dari cinta, dari sekelompok perempuan yang menamai diri mereka SEHATI.*
Penulis: M Ridduwan
Editor: Redaksi