Rohul

Ekpedisi Pemetaan, Mapala SAKAI FISIP Unri Temukan Dua Gua di Desa Tandun

Redaksi Redaksi
Ekpedisi Pemetaan, Mapala SAKAI FISIP Unri Temukan Dua Gua di Desa Tandun

Mapala SAKAI Fisip Universitas Riau saat melakukan ekspedisi gua di Desa Tandun Kabupaten Rokan Hulu

RIAUPEMBARUAN.COM - Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Sayang Akan Kelestarian Alam Indonesia (Sakai) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universtias Riau (Unri) melaksanakan ekspedisi di dua Gua yang berada di desa Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, Riau.

Ketua Mapala Sakai Fisip Unri, Erik Rahman, mengatakan, pelaksanaan ekspedisi pemetaan gua tersebut dilakukan oleh enam orang anggota terdiri dari dirinya sebagai Leader, Ika sebagai Notulen, Fidelis sebagai Shutter, Risda sebagai Pointer, Ryan sebagai Deskriptor dan Intan sebagai Dokumentasi yang dilaksanakan pada 13- 15 November 2020 yang lalu.

Dikatakannya, dalam pelaksanaan pemetaan gua tersebut, Mapala Sakai Fisip Unri bergerak bersama disambut Komunitas Penggiat Alam (Kopi Malam) yang berada di daerah tersebut.

"Pada Gua pertama yang bernama Sigigihan, pemetaan dimulai dari mengukur mulut gua dengan pita ukur, mendapatkan sudut dengan menggunakan kompas,dan menggukur ketinggian atap dengan Klinometer," kata Erik Rachman, Rabu (17/11/2020).

Erik menyebutkan terdapat aliran air pada mulut gua Sigigihan dan di dalam gua juga terdapat beberapa lorong dan juga ruang besar (chamber).

"Gua Sigigihan masih terbilang alami karena masih banyak kelelawar dan tercium aroma khas pupuk yang berasal dari kotoran kelelawar atau yang disebut Goano," katanya.

Nama Sigigihan sendiri dikatakannya merupakan jenis sumur, dikarenakan didalam gua sendiri terdapat dua buah sumur kecil.

"Pemberian nama gua Sigigihan tersebut merupakan kesepatan dengan Kopi Malam, karena sebelumnya gua tersebut tidak memiliki nama," katanya menjelaskan.

Pada ekspedisi pemetaan gua yang kedua berjarak sekitar dua puluh menit perjalanan dari gua Sigigihan, lokasi kedua menurut Erik lebih menarik karena terdapat ornamen berbentuk piring dan cucuran air dari atas gua yang berada didalam.

"Kita sangat sayangkan, pada Gua yang kedua ini sudah tidak terjaga kelestariannya, terdapat banyak coretan di dinding gua yang merusak pemandangan dan karya seni akibat aksi Vandalisme," katanya mengeluhkan.

Gua yang kedua tersebut diberi nama oleh Mapala Sakai adalah Gua Pinggan dikarenakan didalam gua banyak ditemukan banyak ornamen seperti piring, dimana didalam bahasa Melayu disebut Pinggan.

"Mapala Sakai FISIP Unri akan terus mencari dan menemukan gua yang orang belum pernah ketahui di Riau, setelah ditemukan kita tidak akan biarkan begitu saja namun akan dijaga kelestariannya supaya potensi alam di Riau terus berkembang," kata Erik mengakhiri.

Penulis: M. Ridduwan


Tag:Riaumapala sakaiRohulrokan huluunri