RIAUPEMBARUAN.COM -Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali menguat pada perdagangan Jumat (13/3/2026). Penguatan ini sekaligus menandai kenaikan mingguan kedua berturut-turut, didorong oleh naiknya harga minyak nabati pesaing di pasar China.
Pada perdagangan di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Mei ditutup naik 0,51 persen ke level 4.564 ringgit Malaysia per ton. Sepanjang pekan ini, kontrak tersebut tercatat menguat sekitar 4,56 persen.
Penguatan harga CPO juga dipengaruhi pergerakan pasar minyak nabati global. Di China, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian Commodity Exchange naik 1,27 persen, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama menguat 1,34 persen pada perdagangan Jumat.
Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade justru melemah tipis 0,04 persen.
Secara umum, harga minyak sawit kerap mengikuti pergerakan minyak nabati lain karena saling bersaing dalam merebut pangsa pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia juga menuju kenaikan mingguan. Hal ini terjadi meskipun Amerika Serikat berupaya meredakan kekhawatiran pasokan dengan menerbitkan lisensi selama 30 hari bagi sejumlah negara untuk membeli minyak Rusia dan produk minyak bumi yang sebelumnya tertahan di laut.
Dari sektor energi terbarukan, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menyebutkan bahwa uji jalan campuran biodiesel berbasis sawit 50 persen (B50) diperkirakan selesai tidak lebih cepat dari target yang ditetapkan pemerintah, yakni sekitar Juni atau Juli 2026.
Sementara itu, dari sisi produksi, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan produksi CPO nasional mencapai 51,66 juta ton pada 2025, meningkat 7,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Faktor lain yang turut menopang harga adalah meningkatnya permintaan dari India. Impor minyak sawit negara tersebut melonjak 11 persen pada Februari dan menjadi yang tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Lonjakan ini dipicu diskon harga minyak sawit yang lebih besar dibandingkan minyak nabati pesaing, sehingga mendorong penyuling di India meningkatkan pembelian sekaligus menekan impor minyak bunga matahari.
Di Malaysia, pemerintah juga menaikkan harga referensi CPO untuk April. Kebijakan tersebut otomatis meningkatkan bea keluar menjadi 9,5 persen, berdasarkan surat edaran di situs Malaysian Palm Oil Board (MPOB).*
Penulis: Redaksi
Editor: Hendra Gunawan