RIAUPEMBARUAN.COM -Pergerakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini. Selain dipengaruhi berkurangnya aktivitas perdagangan akibat libur panjang di Malaysia, pasar juga mencermati perkembangan investigasi pemerintah Indonesia terhadap sejumlah perusahaan eksportir sawit.
Senior Palm Oil Trader Interband Group of Companies, Jim Teh, mengatakan perdagangan CPO berpotensi bergerak volatil karena sebagian pelaku pasar internasional tidak aktif selama periode libur nasional di Malaysia.
“Pasar kemungkinan akan bergerak fluktuatif dan diperdagangkan pada kisaran 4.200 hingga 4.250 ringgit Malaysia per ton,” ujar Jim Teh seperti dikutip dari Bernama.
Menurutnya, sentimen pasar turut dipengaruhi oleh penyelidikan yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap sejumlah perusahaan eksportir minyak sawit terkait dugaan praktik under-invoicing atau pelaporan nilai ekspor di bawah nilai sebenarnya.
Berdasarkan laporan yang beredar, pemerintah Indonesia saat ini tengah menyelidiki sekitar 20 perusahaan yang bergerak di industri minyak sawit. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 perusahaan besar menjadi fokus utama dalam proses investigasi.
Meski demikian, Jim Teh mengingatkan bahwa stok minyak sawit Malaysia masih berada pada level yang cukup tinggi, yakni sekitar 2,4 juta ton. Kondisi tersebut berpotensi membatasi penguatan harga dalam jangka pendek.
Di sisi lain, permintaan fisik CPO diperkirakan tetap datang dari sejumlah negara konsumen utama seperti China, India, Pakistan, negara-negara Timur Tengah, Uni Eropa, dan Amerika Serikat yang masih menjadi pasar penting bagi industri sawit global.
Pada perdagangan pekan lalu, kontrak CPO Juni 2026 ditutup naik 40 ringgit Malaysia menjadi 4.470 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Juli 2026 juga menguat 40 ringgit Malaysia menjadi 4.503 ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak Agustus 2026 naik 49 ringgit Malaysia menjadi 4.535 ringgit Malaysia per ton. Kontrak September 2026 menguat 59 ringgit Malaysia menjadi 4.561 ringgit Malaysia per ton, Oktober 2026 naik 65 ringgit Malaysia menjadi 4.590 ringgit Malaysia per ton, dan November 2026 bertambah 68 ringgit Malaysia menjadi 4.620 ringgit Malaysia per ton.
Untuk diketahui, Bursa Malaysia Derivatives dan anak usahanya tidak beroperasi pada 1 hingga 2 Juni 2026 sehubungan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Yang di-Pertuan Agong dan libur pengganti Hari Waisak. Aktivitas perdagangan dijadwalkan kembali berlangsung pada Rabu, 3 Juni 2026.
Pelaku pasar kini menunggu perkembangan terbaru terkait investigasi ekspor sawit Indonesia dan arah permintaan global yang akan menjadi faktor utama penentu pergerakan harga CPO dalam beberapa hari ke depan.*
Penulis: Redaksi
Editor: Rezi AP