crossorigin="anonymous">
Info Sawit -
Info Sawit

Gapki Peringatkan Konflik Timur Tengah Ancam Ekspor CPO Indonesia

Redaksi Redaksi
Gapki Peringatkan Konflik Timur Tengah Ancam Ekspor CPO Indonesia

RIAUPEMBARUAN.COM -Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memberikan peringatan serius terkait prospek ekspor crude palm oil (CPO) nasional di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.

Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, mengatakan eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu penurunan permintaan global terhadap CPO Indonesia. Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya biaya logistik dan asuransi pengiriman yang melonjak signifikan.

“Kalau eskalasi ini berkepanjangan pasti akan berpengaruh terhadap permintaan ekspor kita,” ujar Eddy dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (12/3/2026) malam.

Menurutnya, situasi konflik memaksa sejumlah jalur pelayaran ekspor harus memutar untuk menghindari wilayah berisiko. Dampaknya, biaya logistik dan asuransi pengiriman naik hingga rata-rata 50 persen.

Eddy mengkhawatirkan lonjakan biaya tersebut dapat membuat harga CPO di negara tujuan menjadi terlalu mahal, sehingga negara-negara importir berpotensi mengurangi pembelian dari Indonesia.

“Ada kemungkinan negara importir akan mengurangi pembelian apabila harga sudah terlalu tinggi, terutama karena beban logistiknya,” jelasnya.

Wilayah Timur Tengah menjadi kawasan yang paling berpotensi terdampak karena ketergantungan pada jalur pelayaran Selat Hormuz. Berdasarkan data 2025, ekspor CPO Indonesia ke kawasan tersebut mencapai 1,83 juta ton dengan nilai sekitar USD 1,9 miliar.

Beberapa negara yang berada dalam zona risiko gangguan distribusi antara lain Iran, Irak, Uni Emirat Arab, dan Oman.

“Gangguan yang paling terasa memang di kawasan Middle East karena pengiriman harus melalui Selat Hormuz. Ekspor kita ke kawasan itu mencapai 1,83 juta ton,” katanya.

Selain itu, sebagian kapal yang menuju Eropa kini terpaksa memutar melalui Cape Town, Afrika Selatan, untuk menghindari wilayah konflik. Meski masih bisa beroperasi, jalur tersebut membuat konsumsi bahan bakar meningkat sehingga biaya logistik semakin tinggi.

Sebagian kapal lainnya masih melintasi Terusan Suez, namun harus menanggung premi keamanan yang jauh lebih mahal.

Meski demikian, Eddy menyebut industri sawit nasional sejauh ini masih mampu bertahan di tengah tekanan situasi global.

“Dengan kondisi sesulit apa pun industri sawit masih bisa berjalan, tetapi tentu membutuhkan dukungan yang kuat agar ekspor tetap stabil,” ujarnya.

Gapki berharap ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah segera mereda sehingga aktivitas ekspor sawit Indonesia dapat kembali normal tanpa dibebani lonjakan biaya logistik dan asuransi pengiriman.*

Penulis: Redaksi

Editor: Rezi AP


Tag:Berita SawitInfo Sawit