crossorigin="anonymous">
Info Sawit -
Info Sawit

Limbah Pabrik Sawit Cemari Lingkungan, Pakar IPB Tawarkan Teknologi Baru

Redaksi Redaksi
Limbah Pabrik Sawit Cemari Lingkungan, Pakar IPB Tawarkan Teknologi Baru

RIAUPEMBARUAN.COM -Industri kelapa sawit disebut telah menyebabkan kerusakan sekitar 23 juta hektare hutan sejak 2001, berdasarkan data Forest Watch Indonesia. Selain deforestasi, keberadaan pabrik kelapa sawit juga menimbulkan persoalan lingkungan serius akibat limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan.

Dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Suprihatin, menjelaskan bahwa setiap ton tandan buah segar (TBS) dapat menghasilkan limbah cair sekitar 0,75??"0,90 meter kubik.

Jika dikonversikan, jumlah tersebut setara sekitar 3,33 meter kubik limbah untuk setiap ton minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) yang diproduksi.

“Limbah tersebut mengandung berbagai polutan seperti padatan tersuspensi (TSS), bahan organik, minyak dan lemak, serta nutrien yang berpotensi mencemari lingkungan,” jelasnya seperti dikutip dari laman resmi IPB, Selasa (10/3/2026).

Menurut Prof Suprihatin, pengolahan limbah cair pabrik sawit saat ini masih menggunakan sistem kolam anaerobik??"aerobik konvensional. Metode tersebut dinilai memiliki keterbatasan dari sisi efektivitas dan efisiensi.

Sebagai alternatif, ia menawarkan solusi teknologi yang lebih berkelanjutan melalui proses EC+, yakni teknologi pengolahan limbah berbasis elektrokimia atau elektrokoagulasi.

Inovasi tersebut bahkan telah masuk dalam daftar 117 Inovasi Indonesia 2025 versi Business Innovation Center.

Teknologi EC+ bekerja dengan menggunakan arus listrik searah untuk melepaskan ion positif dari elektroda anoda. Ion tersebut kemudian membantu menstabilkan partikel koloid dan membentuk flok yang mampu mengikat berbagai kontaminan dalam limbah cair.

“Proses ini efektif menghilangkan TSS, COD, BOD, warna, minyak dan lemak hingga nutrien seperti fosfat. Air limbah dapat menjadi lebih bersih dan layak digunakan kembali,” ujarnya.

Selain efektif secara teknis, teknologi ini juga dinilai lebih ramah lingkungan dan ekonomis. EC+ tidak memerlukan tambahan bahan kimia seperti tawas dan hanya membutuhkan konsumsi listrik sekitar 9,80 kWh per meter kubik limbah.

Biaya operasionalnya bahkan diperkirakan sekitar 50 persen lebih murah dibanding metode koagulasi kimia konvensional.

Menurut Prof Suprihatin, air hasil pengolahan limbah dengan teknologi EC+ dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan di pabrik, seperti membilas peralatan atau menyiram tanaman.

Sementara endapan lumpur (sludge) yang dihasilkan juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pembenah tanah.

Ia menilai teknologi ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular dalam industri kelapa sawit.

“Proses EC+ dapat menjadi komponen penting dalam membentuk siklus tertutup air dan unsur hara, mengurangi penggunaan pupuk sintetis, serta mendukung konsep zero waste di industri kelapa sawit,” pungkasnya.*

Penulis: Redaksi

Editor: Rezi AP

Sumber: Detikcom


Tag:Berita SawitInfo SawitLimbah Pabrik Sawit