RIAUPEMBARUAN.COM - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) nasional mencapai 4,90 juta ton pada Juli 2026. Angka tersebut meningkat 1,68 persen dibandingkan Juni 2026 yang tercatat sebesar 4,82 juta ton.
Namun, peningkatan produksi tersebut belum diikuti kinerja ekspor yang positif. Nilai ekspor produk sawit Indonesia pada Juli 2026 justru mengalami koreksi akibat penurunan volume pengapalan dan harga rata-rata komoditas.
Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, mengatakan produksi minyak inti sawit atau *palm kernel oil* (PKO) juga mengalami kenaikan menjadi 466.000 ton dari sebelumnya 449.000 ton pada Juni 2026.
"Total produksi CPO dan PKO pada Juli 2026 mencapai 5,37 juta ton, tumbuh 1,87 persen dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 5,27 juta ton," ungkap Mukti dalam keterangan resmi, Senin (28/9/2026).
Secara kumulatif Januari hingga Juli 2026, produksi CPO dan PKO nasional mencapai 35,65 juta ton atau meningkat 6,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 33,49 juta ton.
Di sisi konsumsi, serapan minyak sawit dalam negeri pada Juli 2026 mencapai 2,27 juta ton, naik 3,35 persen dibandingkan Juni yang sebesar 2,20 juta ton.
Peningkatan tersebut terutama didorong sektor biodiesel. Konsumsi CPO untuk bahan baku biodiesel melonjak 13,59 persen menjadi 1,28 juta ton dari sebelumnya 1,13 juta ton.
Sebaliknya, konsumsi untuk kebutuhan pangan turun 8,31 persen menjadi 805.000 ton, sedangkan sektor oleokimia terkoreksi 3,65 persen menjadi 185.000 ton.
"Secara kumulatif Januari-Juli 2026, konsumsi dalam negeri mencapai 15,21 juta ton atau tumbuh 6,38 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 14,30 juta ton," tambah Mukti.
Di sektor perdagangan internasional, volume ekspor produk sawit Indonesia pada Juli 2026 tercatat 3,18 juta ton, turun 2,67 persen dibandingkan Juni yang mencapai 3,27 juta ton.
Penurunan terutama terjadi pada ekspor CPO mentah yang merosot 25,70 persen menjadi 249.000 ton. Ekspor olahan minyak inti sawit juga turun 14,60 persen menjadi 99.000 ton.
Sementara itu, produk oleokimia masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 14,94 persen menjadi 537.000 ton.
Koreksi volume pengapalan dan harga rata-rata CPO ekspor turut menekan nilai perdagangan sawit nasional. GAPKI mencatat nilai ekspor Juli 2026 turun 2,89 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, kinerja ekspor secara kumulatif masih menunjukkan pertumbuhan. Sepanjang Januari-Juli 2026, nilai ekspor produk sawit Indonesia meningkat 10,92 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Kinerja tersebut didukung rata-rata harga CPO global yang lebih tinggi sepanjang tujuh bulan pertama 2026, yakni US$1.137 per ton.
Berdasarkan negara tujuan, Uni Eropa mencatat peningkatan permintaan bulanan tertinggi pada Juli 2026 dengan volume ekspor mencapai 104.000 ton atau naik 40 persen dibandingkan Juni.
Ekspor ke Amerika Serikat juga meningkat 20 persen menjadi 44.000 ton, Afrika naik 17 persen menjadi 61.000 ton, sedangkan China tumbuh 4 persen menjadi 25.000 ton.
Sebaliknya, ekspor ke India turun 20 persen, Rusia 69 persen, Malaysia 32 persen, dan Pakistan 17 persen.
Secara kumulatif Januari-Juli 2026, China masih mencatat pertumbuhan ekspor sebesar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Disusul Malaysia 14 persen, Afrika 5 persen, dan Uni Eropa 4 persen.
Sementara ekspor kumulatif ke India mengalami penurunan 20 persen.
Dengan memperhitungkan stok awal tahun sebesar 2,06 juta ton, produksi, konsumsi domestik, ekspor, serta impor sebesar 38.000 ton, GAPKI mencatat stok akhir minyak sawit Indonesia pada Juli 2026 berada di level 2,75 juta ton.
Data tersebut menunjukkan produksi dan konsumsi domestik sawit nasional masih tumbuh, sementara dinamika harga dan volume pengiriman menjadi faktor yang memengaruhi kinerja ekspor sepanjang Juli 2026.*
Penulis: Redaksi
Editor: M Ridduwan