crossorigin="anonymous">
Nasional

Bola Mata Sayu: Dari Jantung Kilang, Harapan Negeri Menyala

Redaksi Redaksi
Bola Mata Sayu: Dari Jantung Kilang, Harapan Negeri Menyala
Dok PT KPI RU II Dumai

Tim inovasi Kilang Pertamina Dumai dan Sungai Pakning meraih medali di The 11th International Exhibition of Inventions (IEI) China 2025 di Guangzhou, Tiongkok.

PAGI itu di Kilang Pertamina Dumai, udara terasa berat oleh aroma logam panas dan uap minyak mentah yang naik dari jantung bumi. Kabut tipis masih menggantung di udara, enggan beranjak dari pipa-pipa baja yang berkelok seperti urat nadi raksasa.

Di bawah langit yang belum sepenuhnya terang, ratusan langkah berseragam biru berpacu dengan waktu serta langkah para perwira energi, penjaga bara di jantung industri yang tak pernah tidur.

Suara dengung mesin bergema seperti mantra logam. Dari kejauhan, terdengar desis uap yang memecah udara, berpadu dengan denting besi yang saling bersentuhan. Bagi telinga awam, itu mungkin sekadar kebisingan. Tapi bagi mereka yang hidup di baliknya, itulah musik kehidupan dan nada yang menandai bahwa energi negeri masih berdetak.

Di balik helm dan kacamata pelindung, ada tatapan yang tak mudah dilupakan. Bola mata sayu, bukan karena lelah, tapi karena tanggung jawab yang terlalu besar untuk sekadar disebut pekerjaan. Tatapan yang menyimpan cerita, tentang jam kerja yang melampaui malam, tentang panas yang membakar kulit, dan tentang keyakinan bahwa setiap percikan api yang menyala di kilang adalah bentuk cinta paling sunyi pada negeri.

Mereka bukan sekadar operator industri. Mereka adalah penjaga kehidupan, para perwira yang memastikan detak jantung energi Indonesia tak pernah berhenti. Di tangan-tangan mereka yang menghitam oleh oli dan debu panas tersimpan sesuatu yang tak bisa diukur dengan angka dan dedikasi yang nyaris religius, kesetiaan pada pekerjaan yang tak pernah terucap lantang, tapi terasa nyata di setiap denyut mesin.

Agustus 2025. Saat sebagian besar rakyat bersorak merayakan kemerdekaan ke 80 Republik Indonesia, sekelompok anak bangsa di pesisir Riau justru mengibarkan merah putih di panggung dunia.

Di Guangzhou, Tiongkok, tiga tim inovasi dari Kilang Pertamina Dumai dan Sungai Pakning naik ke podium kehormatan, membawa pulang medali emas, perak, dan perunggu serta empat penghargaan khusus dalam ajang The 11th International Exhibition of Inventions (IEI) China 2025 yang digelar pada 12 - 15 Agustus 2025.

Prestasi itu melengkapi torehan Platinum Award dari Annual Pertamina Quality Award (APQA) 2024, kompetisi inovasi internal paling bergengsi di tubuh Pertamina, sekaligus menegaskan bahwa inovasi anak bangsa bisa bersaing di tingkat global.

Mereka bukan selebritas, bukan profesor. Mereka adalah para teknisi, insinyur, dan operator, orang-orang yang kesehariannya bergulat dengan panas, tekanan, dan deru mesin.

Tujuh Wajah di Balik ALLIEN
Dari bengkel kecil di area kilang Sungai Pakning, tujuh orang perwira memulai perjalanan panjang mereka. Tim itu menamakan diri PC-Prove ALLIEN, di antaranya Prihartono (Leader), Dio Cesar Alfananda, William Hartanto, Raziman, Stefanus Budisantosa, Suranto, dan Edy Susanto.

Mengusung tema "ALLIOTS, Redefining Valve Testing with AI Condition Insight", mereka menciptakan sistem pengujian terintegrasi yang kelak dikenal dengan nama ALLIOTS atau All In One Testing System, sebuah test bench valve universal yang mampu melakukan pengujian dan kalibrasi untuk berbagai tipe valve, dari Breather Valve hingga Pressure Safety Valve.

Dirancang dengan sensor presisi terkalibrasi dan didukung oleh kecerdasan buatan, sistem ini mampu mendeteksi gejala awal degradasi dan memberikan rekomendasi cerdas berbasis data untuk predictive maintenance.

Melalui hasil pengujian berupa data Leak Time dan Pressure Holding Time, ALLIEN AI dapat memperkirakan tingkat keparahan kerusakan pada valve dan merekomendasikan tindakan perawatan sebelum kegagalan terjadi.

Prosesnya dimulai dari pemilihan mode pengujian sesuai jenis valve yang diperiksa. Setelah dijalankan, ALLIOTS secara otomatis melakukan seluruh tahapan pressure build up, holding phase, hingga set pressure sambil merekam data kritis secara real time. Hasilnya ditampilkan dalam dashboard interaktif yang mudah dibaca dan diakses oleh operator.

"Dengan ALLIOTS, inspeksi valve menjadi lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih andal. Kami ingin setiap perwira bekerja dengan alat yang bukan hanya kuat, tapi juga memiliki kecerdasan membaca kondisi sistem secara real time," ujar Prihartono, leader tim ALLIEN.

Sosok muda William Hartanto, bersama Dio Cesar Alfananda, menjadi otak di balik integrasi sistem digital dan pengembangan fitur AI yang memastikan ALLIOTS memiliki ketepatan tinggi dalam membaca kondisi alat dan menganalisis perilaku tekanan.

Sementara itu, Edy Susanto, sosok sederhana yang telah berkeluarga, menatap foto anaknya di meja kerja yang berdebu. "Selama proyek, anak saya jarang lihat wajah saya. Saya pulang saat dia tidur, berangkat sebelum dia bangun. Waktu saya pulang dari China, dia berlari sambil bilang, ‘Ayah pahlawan saya’. Semua lelah hilang," kenang Edy.

Kisah Edy adalah potret banyak perwira kilang, mereka yang bekerja di balik panas, berkorban tanpa sorotan, tapi dari tangan merekalah energi untuk jutaan rumah terus menyala.

Sementara itu, gugus PC-Prove Special Stopper yang beranggotakan Rendra Pratama, Maulana Harun Ar Rasyid, Septian Jamaludin Z., Abdullah Adib, Supriadi, Muhammad Rio Firdaus, Semuel Mani’S., dan Harri Darmawan, sukses menghadirkan inovasi Precision Ring Stopper.

Inovasi ini berhasil meningkatkan Plant Availability Factor (PAF) dengan menjaga readiness steam turbine generator, menurunkan Mean Time To Repair (MTTR), serta meminimalisir risiko failure pada penggantian gear coupling steam turbine generator 905-GT-3 di Kilang Dumai.

Berkat inovasi tersebut, gugus ini berhasil menyabet Silver Medal serta Special Award dari Association of Polish Inventors and Rationalizers (Poland).

Jika dua inovasi pertama berbicara tentang efisiensi, maka G-Spring 2.0 berbicara tentang keselamatan. Di area Utilities Kilang Dumai, suhu dan tekanan bisa mencapai titik ekstrem. Di dunia seperti itu, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.

Tim PC-Prove G-Spring 2.0, yang dipimpin Ulil Aidi dan digawangi oleh Erwan Fahmi Baharudin, Masagus Rifqie Saputra, Nuriyanto, Muhammad Ilham, Doni Gusyaeka, Robby Nikson, dan Faiz Hadi, merancang alat uji preventive maintenance untuk memastikan sistem vital tetap prima sebelum rusak.

"Di dunia kilang, mencegah lebih berharga daripada memperbaiki. Kami tidak hanya menghemat biaya, kami menjaga nyawa," tutur Ulil.

Sejak penerapan G-Spring 2.0, angka downtime turun hingga 30 persen dan kecelakaan kerja menurun signifikan. Atas prestasi itu, mereka meraih Bronze Medal dan Special Award dari National Research Council of Thailand.

"Setiap kali alat ini berfungsi dengan baik, setiap kali tidak ada kecelakaan, itulah medali kami yang sesungguhnya," kata Ulil pelan.

Tak ada inovasi besar yang lahir tanpa gagal. Versi pertama ALLIOTS sempat rusak parah saat diuji. Tabung uji melenting akibat kesalahan tekanan. Tapi mereka tak berhenti. Malam demi malam berlalu di bengkel kilang, di tengah panas mesin dan bunyi palu logam.

"Senior kami bilang, kalau ingin membuat sesuatu yang berarti, jangan takut gagal. Gagal itu bukan akhir, tapi bagian dari perjalanan. Kalimat itu seperti bahan bakar baru buat kami," balas Dio.

Hingga akhirnya, alat itu lulus uji di Institut Teknologi Bandung (ITB), diverifikasi oleh PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), dan dikalibrasi oleh LAB KAN pada triwulan II tahun 2024. Hasilnya menakjubkan akurasi pengujian mencapai ±1,42%, jauh melampaui standar internasional ISO 52082.

Secara finansial, ALLIOTS juga menyelamatkan biaya besar: penghematan kontrak kalibrasi mencapai Rp567 juta, pembelian alat Rp559 juta, efisiensi empat tahun Rp852 juta, dan potensi kerugian yang dihindari mencapai Rp163 miliar.

Ketika hasil kerja mereka dibawa ke ajang APQA 2024, ALLIOTS menyabet Platinum Award, predikat tertinggi di tubuh Pertamina. Namun yang paling membekas justru ketika mereka berdiri di atas panggung dunia, membawa pulang Gold, Silver, Bronze, dan empat Special Award pada ajang IEI China 2025.

"Ketika nama Indonesia disebut, kami semua menunduk haru. Rasanya seperti membawa merah putih berkibar di tengah ribuan penemu dunia," cerita Prihartono sambil menghela napas.

Di balik semangat para perwira muda itu, berdiri sosok yang disebut banyak orang sebagai penyulut bara inovasi. Iwan Kurniawan, General Manager PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU II Dumai.

“Kalau ingin maju, jangan tunggu perintah. Mulailah dari keresahan,” Iwan dengan nada getir iya berucap dalam satu sesi internal yang kini dikenal sebagai Petuah Kilang.

Di bawah kepemimpinannya, budaya Continuous Improvement Program (CIP) tumbuh menjadi DNA kerja di RU II. Lebih dari 300 ide inovasi lahir setiap tahun, dengan tingkat implementasi 85 persen, menghasilkan efisiensi operasional hingga Rp72 miliar dalam tiga tahun terakhir.

Malam turun di Dumai. Lampu-lampu kilang menyala seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Dari kejauhan, kilang itu tampak seperti kota kecil yang tak pernah tidur, jantung energi yang terus berdetak, tenang tapi pasti.

"Dulu saya pikir inovasi itu soal teknologi. Sekarang saya tahu, inovasi itu soal hati, tentang tidak ingin berhenti memberi yang terbaik untuk negeri," sebut Ulil Aidi, menatap layar monitor.

Di ruangan itu, bola mata para perwira tampak sayu tapi berpendar bukan karena lelah, melainkan karena cahaya kebanggaan. Mereka tahu, setiap ide yang lahir hari ini akan menyalakan masa depan esok.

"AI di sini bukan untuk menggantikan manusia. Ia untuk memastikan semua orang pulang dengan selamat," tambah Ulil Aidi, sebagai perwira di unit Utilities.

Dari panas kilang, lahir kehangatan yang tak terlihat mata semangat, cinta, dan keyakinan bahwa energi sejati selalu berawal dari manusia. "Teknologi bisa dibeli, tapi semangat mencipta hanya bisa lahir dari hati," jawab Prihartono menutup kisahnya.

Dan di sanalah, di jantung kilang yang berdenting, Indonesia berdenyut hidup, hangat, tangguh, dan terus menyala.

Jejak Nyata Kilang Dumai
Kini, inovasi di Dumai tak lagi sekadar soal efisiensi. Menurut Agustiawan, Area Manager Communication, Relations & CSR KPI RU II Dumai, setiap gagasan diarahkan untuk sejalan dengan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) dan transisi energi berkelanjutan.

"Para perwira tak hanya berpikir soal kilang bekerja lebih cepat. Mereka juga memikirkan bagaimana operasional ini tetap ramah lingkungan dan memberi manfaat sosial," jelas Agustiawan ditemui, Jumat (10/10/2025).

Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU II Dumai terus menjadi nadi energi bagi negeri. Di bawah langit beraroma minyak mentah dan uap panas, kilang ini berdiri bukan sekadar sebagai pusat industri, tetapi juga laboratorium hidup bagi efisiensi, inovasi, dan transisi energi bersih.

Setiap harinya, sekitar 170 ribu barel minyak mentah diolah di jantung kilang ini. Dari jumlah itu, lebih dari 16 persen kebutuhan bahan bakar nasional lahir dan disalurkan ke berbagai penjuru Indonesia. Pertamax, Pertalite, Avtur, hingga Marine Fuel Oil mengalir dari pipa baja yang menembus pesisir Dumai menjadi nadi yang menggerakkan mesin negeri.

Sejak 2024, RU II Dumai memperkuat langkah efisiensi melalui program Gas Engine Generator (GEG) dan retrofit boiler. Kedua inisiatif ini memanfaatkan gas buang untuk menghasilkan listrik internal, menggantikan sebagian bahan bakar minyak. Dampaknya terasa nyata, konsumsi energi menurun dan biaya operasional berkurang hingga Rp176,4 miliar per tahun.

Selain efisiensi biaya, langkah ini turut menekan emisi karbon secara signifikan. Optimalisasi GEG berhasil menurunkan 22.420 ton CO?e sepanjang 2024, menjadikan RU II salah satu unit dengan capaian dekarbonisasi tertinggi di lingkungan Pertamina Group.

"Setiap rupiah yang dihemat dan setiap ton emisi yang kami kurangi adalah bentuk tanggung jawab terhadap generasi mendatang. Efisiensi bukan hanya soal angka, tapi soal nurani," tutur Agustiawan.

Pada 18 Februari 2024, sejarah baru ditorehkan. Kilang Dumai berhasil memproduksi Marine Fuel Oil (MFO) 180 cSt Low Sulphur untuk pertama kalinya. Produk ini memenuhi standar internasional IMO 2020 dan menjadi bahan bakar kapal ramah lingkungan yang sangat dibutuhkan di pasar global.

Kinerja itu turut diikuti deretan penghargaan, termasuk Indonesia Safety Excellence Award (ISEA) 2024 dan PROPER Emas dari KLHK. "Keselamatan bagi kami bukan sekadar prosedur, tapi budaya yang tumbuh di setiap lini," tegas Agustiawan.

Kini RU II Dumai menapaki era energi hijau. Melalui co-processing minyak nabati, kilang ini tengah menyiapkan produksi Green Diesel dan Green Avtur menuju target Net Zero Emission 2060.

Kolaborasi riset dengan ITB dan Universitas Riau melahirkan sistem pemantauan emisi berbasis AI, Emission Monitoring System, untuk mendeteksi potensi kebocoran dan anomali emisi secara real time.

Dampak kehadiran RU II terasa luas. Hingga triwulan ketiga 2025, total investasi sektor energi di Kota Dumai mencapai Rp3,9 triliun, menjadikannya daerah dengan realisasi investasi tertinggi di Provinsi Riau. Lebih dari 2.000 tenaga kerja lokal terserap langsung, sementara ribuan lainnya bekerja di sektor pendukung.

Program tanggung jawab sosial perusahaan kini difokuskan pada pemberdayaan masyarakat sekitar, desa energi mandiri, pelatihan wirausaha hijau, hingga pengelolaan limbah menjadi sumber daya alternatif.

"Setiap inovasi yang lahir di Dumai harus punya dampak bagi masyarakat. Kami ingin tumbuh bersama, memastikan manfaat kilang ini dirasakan luas, bukan hanya untuk perusahaan tapi juga lingkungan sosial di sekitarnya," jelas Agustiawan.

Dari balik dinding logam dan dentuman mesin, RU II Dumai membuktikan bahwa inovasi bukan sekadar cerita teknis, melainkan perjalanan antara data dan dedikasi.

"Energi bukan hanya hasil dari proses kilang. Ia adalah amanah, sesuatu yang harus dijaga dengan hati dan dijalankan dengan hati," tutup Agustiawan.

Dari Dumai, dari panas dan uap yang tak pernah berhenti, bara inovasi itu terus berpijar. Ia bukan sekadar data, melainkan bukti bahwa di jantung industri, manusia dan tanggung jawab sosial masih menjadi bahan bakar paling berharga.***

Penulis: Rezi Andika Putra

Editor: Redaksi


Tag:AJP 2025Anugerah Jurnalistik PertaminaKilang Pertamina DumaiKilang Pertamina Sungai PakningPC-Prove ALLIENPC Prove ALLIENPC-Prove Special StopperPC Prove Special StopperPT KPI RU II DumaiPT PertaminaTim PC-Prove G-Spring 2.0Tim PC Prove G Spring 2 0