RIAUPEMBARUAN.COM -Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Kesehatan memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus Hantavirus di seluruh wilayah Provinsi Riau. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) guna mencegah potensi penularan virus tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zulkifli, mengatakan pihaknya belum menerima laporan adanya kasus Hantavirus di Riau. “Hingga saat ini belum ada laporan terkait Hantavirus di Riau,” kata Zulkifli, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan, Dinas Kesehatan masih menunggu arahan resmi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terkait langkah penanganan apabila nantinya ditemukan kasus suspek Hantavirus di daerah.
“Virus ini mengarah pada penyakit menular, jadi kami masih menunggu surat edaran dari Kemenkes terkait langkah preventif, kuratif, maupun rehabilitatifnya,” ujarnya.
Meski belum ditemukan kasus di Riau, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya, karena virus tersebut diketahui dapat menular melalui hewan pengerat.
“Penularannya memang dari tikus. Karena itu, masyarakat diimbau menerapkan PHBS sebagai langkah awal pencegahan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya,” jelas Zulkifli.
Selain itu, masyarakat juga diminta menyimpan makanan di tempat tertutup dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri badan, batuk, hingga sesak napas.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI memastikan hingga kini belum ditemukan kasus hantavirus pulmonary syndrome (HPS) di Indonesia seperti yang sempat ditemukan di Kapal Pesiar MV Hondius.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr Andi Saguni, menyebut kasus yang terkonfirmasi di Indonesia merupakan tipe haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus.
“Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional,” ujar dr Andi Saguni.
Berdasarkan data Kemenkes, selama periode 2024 hingga 2026 ditemukan sebanyak 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS di sejumlah daerah, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Jumlah kasus terkonfirmasi terbanyak tercatat pada 2025 dengan 17 kasus. Sementara pada 2024 terdapat satu kasus dan hingga Mei 2026 tercatat lima kasus.
Penulis: Redaksi
Editor: Hendra Gunawan