RIAUPEMBARUAN.COM -Perjalanan hidup Chandra Setiawan menjadi potret nyata bagaimana ketekunan dan kesempatan mampu mengubah masa depan. Pemuda asal Balam KM 15, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, itu kini berhasil menembus kerasnya industri migas melalui Program Penguatan Ekosistem Vokasi yang digagas PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) bersama PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI).
Dulu, Chandra hanya berada di luar pagar area kerja migas. Bersama sang ibu, ia berjualan makanan dari satu lokasi proyek rig pengeboran ke lokasi lainnya demi membantu perekonomian keluarga.
“Ke mana rig itu pindah, kami ikut pindah berjualan. Mulai dari Balam KM 12, KM 16, sampai ke Bangko dan Sintong,” kenang Chandra, Jumat (8/5/2026).
Namun kini, pemuda tersebut bersiap mengenakan seragam keselamatan dan bergabung sebagai kru profesional di atas menara bor.
Perjalanan Chandra dimulai pada 2023 ketika ia membantu ibunya berjualan di sekitar lokasi operasional Rig PDSI. Aktivitas itu membuatnya akrab dengan suasana industri migas.
Deru mesin pengeboran dan aktivitas para pekerja lapangan perlahan menumbuhkan mimpi besar dalam dirinya untuk bisa bekerja di industri tersebut.
“Kalau lokasi rig masih terjangkau, kami buka lapak di sana. Pernah berhenti sebentar karena rig pindah ke Duri yang terlalu jauh, tetapi semangat kami tidak pernah hilang,” ujarnya.
Keinginan Chandra semakin kuat setiap kali melihat pekerja migas mengenakan perlengkapan keselamatan dan mengoperasikan peralatan berat di lapangan.
Titik balik kehidupan Chandra datang pada awal 2025. Melalui informasi dari grup Karang Taruna, ia mengetahui adanya Program Vokasi Migas yang diselenggarakan PHR.
Tanpa ragu, ia langsung mendaftar dan mengikuti seluruh tahapan seleksi, mulai dari administrasi hingga Medical Check-Up (MCU). Hasilnya, Chandra dinyatakan lolos dan berhak mengikuti pelatihan intensif di Indonesia Drilling Training Center (IDTC) Indramayu selama dua bulan.
Di pusat pelatihan tersebut, Chandra mempelajari berbagai aspek pekerjaan migas, mulai dari regulasi, teknis pengeboran, hingga standar keselamatan kerja.
“Di IDTC saya belajar banyak hal yang sebelumnya hanya bisa saya lihat dari jauh. Kami diajarkan memahami detail operasi di lapangan,” jelasnya.
Sepulang dari pelatihan, Chandra kembali membantu ibunya berjualan sambil menunggu jadwal magang resmi di Rig PDSI yang saat itu beroperasi di wilayah Menggala dan Sintong.
Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Pada April 2026, ia resmi mendapatkan panggilan kerja untuk bergabung di Rig PDSI.
“Saya ingin membanggakan orang tua. Saya ingin membuktikan bahwa anak penjual makanan di area rig juga bisa menjadi tenaga profesional di sana,” ungkap Chandra penuh haru.
Selain Chandra, kisah inspiratif juga datang dari Wahyu Kurniawan, pemuda berdarah Sakai yang berhasil menembus industri hulu migas melalui jalur vokasi PHR.
Bagi Wahyu, kesempatan bekerja di lingkungan PDSI bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk kebanggaan sebagai putra daerah yang mampu berkiprah di tanah kelahirannya sendiri.
“Ini pembuktian bahwa pemuda asli daerah mampu bersaing di dunia kerja modern,” ujar Wahyu.
Perjalanannya juga tidak mudah. Ia sempat mengalami keraguan saat menghadapi materi teori dan praktik lapangan yang cukup berat. Namun, dukungan keluarga membuatnya terus bertahan hingga akhirnya berhasil.
“Alhamdulillah, hasil usaha itu sekarang terlihat. Saya ingin menjadi inspirasi bagi generasi muda Suku Sakai lainnya bahwa kita juga bisa berkontribusi langsung di industri migas,” katanya.
Kini, Chandra dan Wahyu berdiri di lantai rig yang sama, membawa cerita perjuangan berbeda namun tujuan yang serupa: membuktikan bahwa kerja keras dan kesempatan pendidikan vokasi mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
“Saya berharap suatu saat bisa berkontribusi lebih luas lagi langsung di PT Pertamina Hulu Rokan,” tutur Wahyu.
Keberhasilan Chandra dan Wahyu menjadi gambaran nyata dampak investasi sosial yang dijalankan PHR di wilayah operasionalnya.
Melalui Program Penguatan Ekosistem Vokasi yang dijalankan bersama PDSI, PHR berupaya menciptakan sumber daya manusia lokal yang siap bersaing sesuai standar industri migas global.
Program tersebut tidak hanya membuka akses pelatihan dan pendidikan vokasi, tetapi juga memberikan peluang nyata bagi generasi muda Riau untuk masuk ke sektor energi nasional.
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan anak perusahaan Pertamina yang bergerak di bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
PHR berdiri sejak 20 Desember 2018 dan resmi mengelola Wilayah Kerja (WK) Rokan sejak 9 Agustus 2021 setelah menerima amanah dari Pemerintah Indonesia.
WK Rokan memiliki luas sekitar 6.200 kilometer persegi yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Provinsi Riau. Saat ini terdapat sekitar 80 lapangan aktif dengan lebih dari 11.300 sumur dan 35 gathering station.
Wilayah kerja tersebut memproduksi sekitar seperempat minyak mentah nasional serta menjadi salah satu tulang punggung produksi energi nasional.
Selain fokus pada produksi migas, PHR juga menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat, dan pelestarian lingkungan.*
Penulis: Redaksi
Editor: Hendri Koeswoyo