DESA Mukti Sari, perubahan tak datang dengan gegap gempita, melainkan dari kandang-kandang sederhana tempat harapan tumbuh perlahan. Dari kotoran sapi yang dulu dianggap beban, kini mengalir gas kehidupan yang menyalakan tungku, menerangi malam, dan menghangatkan keluarga.
Energi biru itu bukan sekadar bahan bakar, melainkan bukti bahwa dari tangan-tangan gigih dan hati yang tak menyerah, kehidupan bisa berputar arah menuju masa depan yang lebih terang.
Desa kecil di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar ini tak lagi memandang limbah ternak sebagai masalah, melainkan peluang. Berkat 20 reaktor biogas yang kini beroperasi, rumah-rumah warga terang, semangat keluarga peternak pun menyala.
Warga yang dulunya harus membeli gas elpiji kini bisa memasak dengan hasil olahan sendiri, menghemat pengeluaran sekaligus menjaga lingkungan dari pencemaran.
Perubahan itu terasa di setiap rumah. Dari dapur yang dulu bergantung pada tabung gas, kini menyala api biru yang tenang tanpa asap. Anak-anak belajar di bawah cahaya yang dihidupkan oleh energi dari kandang. Dulunya daerah transmigrasi, kini Mukti Sari melangkah maju menuju kemandirian energi, lahir kehidupan yang memberi harapan.
Kabut tipis menggantung di atas padang sawit pagi itu. Suara sapi sesekali terdengar dari balik kandang, memecah hening yang lembut. Embun menempel di ujung rumput, mengilap pelan di bawah cahaya matahari yang mulai menanjak.
Beberapa orang menenteng ember berisi campuran kotoran sapi dan air, mengaduknya perlahan. Tak ada yang jijik. Tak ada yang menyingkir. Di sinilah energi kehidupan mereka lahir, dari tempat yang paling tak disangka.
Dulu, pemandangan seperti ini diiringi wajah meringis. Jalan desa becek, bau menyengat, lalat berkerumun. Orang luar kerap menutup hidung saat melintas. Tapi kini, dari tumpukan limbah itu, api biru menyala di dapur warga, panci mengepul tanpa LPG, dan lahan kembali hijau dengan pupuk alami.
Inilah kisah sederhana namun besar tentang manusia yang mengubah jijik menjadi bangga, kotoran hewan (kohe) sapi menjadi energi biru dan masalah menjadi sumber kehidupan baru.
Kabut pagi belum sepenuhnya pergi ketika suara sapi kembali memecah sepi. Di sebuah sudut, seorang pria berdiri menatap barisan kandang dengan bangga. Waryono, Kepala Desa Mukti Sari, mengenang masa lalu yang penuh keraguan.
"Saya dulu jujur saja, tidak yakin. Yang diolah ini kan kotoran. Saya pikir, bagaimana mungkin itu bisa jadi energi," ceritanya sambil tersenyum tipis.
Bertahun-tahun, Mukti Sari hidup berdampingan dengan bau busuk. Tapi pada 2022, angin perubahan datang. Kolaborasi antara Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan Yayasan Rumah Energi (YRE) menyalakan ide gila, limbah ternak dijadikan sumber energi.
"Awalnya banyak yang menolak. Tapi begitu kami tunjukkan hasilnya, semua berubah," ujar Waryono menatap hamparan kandang yang kini bersih.
Kini Mukti Sari dikenal sebagai Desa Energi Berdikari (DEB), salah satu desa percontohan energi bersih di Riau. Pemerintah desa bahkan menerbitkan Peraturan Desa pada 2023, setiap pemilik sapi wajib mengelola limbahnya. "Dulu bau busuk, sekarang kami sebut bau harum dan bau duit. Dari bau itu, hidup kami berputar," kenangnya sambil terkekeh.
Di kompleks kandang yang kini tertata rapi, seorang pria berkaus lusuh warna biru menepuk kubah semen besar di hadapannya. "Ini reaktor utama, kreatornya di sini," jelas Sudarman, Ketua Kelompok DEB Tani Bina Mukti Sari.
Reaktor itu berdiameter dua belas meter. Di dalamnya, jutaan bakteri metan bekerja tanpa lelah, memecah bahan organik menjadi gas yang bisa menyalakan dapur warga.
"Prosesnya gampang. Satu ember kotoran, satu ember air. Masuk ke mixer, lalu dialirkan ke reaktor tertutup. Dari situ gas terbentuk dan disalurkan ke rumah," tambah Sudarman sambil menunjuk pipa-pipa kecil.
Dua puluh reaktor aktif di desa itu kini mengolah sekitar 950 ton limbah ternak per tahun cukup untuk memenuhi kebutuhan memasak 75 rumah tangga. "Selama sapinya sehat, kebutuhan kohe cukup, gasnya tak pernah berhenti," ungkap Sudarman bangga.
Hasilnya nyata. Pengeluaran untuk LPG turun drastis. Setiap rumah tangga menghemat sekitar seratus ribu rupiah per bulan. "Kalau dijumlah, dua ratus juta rupiah per tahun tetap di desa. Tapi uang itu bukan segalanya. Yang kami rasakan lebih besar adalah rasa bangga," ujarnya sambil tersenyum.
Di rumah semi permanen berdinding papan, Suramti istri Sudarman tengah menggoreng ubi hasil kebunnya. Api biru memantul di wajahnya. "Dulu saya cari kayu sampai jauh. Kalau musim hujan, kayu basah, asapnya bikin mata pedih. Sekarang tinggal putar katup, langsung nyala," katanya tertawa kecil.
Suramti kini punya waktu lebih untuk anak-anak. Dapur bersih, rumah tak lagi berasap. "Anak-anak suka. Katanya, dapur sekarang wangi, bukan bau asap," ujarnya lirih.
Ia hanyalah satu dari puluhan perempuan yang hidupnya berubah oleh biogas. Api biru di dapur mereka bukan sekadar bahan bakar, melainkan simbol kebebasan kecil, bahwa energi bersih bisa lahir dari tangan sendiri, bukan dari tabung mahal.
Revolusi di Mukti Sari tak berhenti di kompor. Dengan bantuan YRE dan dukungan teknis PHR, kini menggunakan Smart Biogas, teknologi yang memantau tekanan, suhu, dan volume proses biogas lewat ponsel.
"Kalau tekanannya drop, Sudarman bisa tahu dari HP. Kadang sebelum bahan baku kohe habis, dia sudah isi ulang," ungkap Firnando Hutagaol dari Dinas Peternakan Kampar.
Menurut Firnando, biogas membuka babak baru bagi peternakan rakyat. Petani kini bukan sekadar beternak, tapi juga produsen energi. "Kalau semangat seperti ini menular, Indonesia tak perlu cemas soal energi masa depan," ujarnya.
Beberapa meter dari reaktor, sebuah bangunan berdiri sederhana. Papan kayunya bertuliskan Rumah Produksi Pupuk Organik Biotama Agung Lestari.
Di dalamnya, Hasan Mahyein mengaduk cairan cokelat muda dalam drum biru besar. "Ini bioslurry, sisa fermentasi dari reaktor. Kami olah lagi jadi pupuk cair dan padat," jelasnya sambil bekerja.
Dulu, limbah seperti ini dibuang. Kini, ia menjadi bisnis. Tiap bulan kelompok itu memproduksi lebih dari 200 liter pupuk cair dan puluhan karung pupuk padat.
Sebagian besar dipakai petani desa, sisanya dijual ke luar. "Tanah jadi lebih gembur, tanaman lebih sehat. Petani tak lagi tergantung pupuk kimia," kata Hasan.
Salah satu pengguna pupuk organik, Susilawati, tersenyum malu ketika ditanya soal penghasilannya. "Saya dulu cuma di rumah. Sekarang menanam sayur dan buah di pekarangan. Lumayan, bisa buat biaya sekolah anak," ujarnya.
Pupuk mereka kini bersertifikat laboratorium Kementerian Pertanian dan dijual dengan label Prima Bioslurry. "Yang dulu dibuang, sekarang jadi rezeki. Hampir menyeluruh warga disini bercocok tanam di perkarangan rumah, dengan produk buatan kita," kata Hasan menatap hasil produksinya.
Menurut Theo Merton Putra, Chief Development and Engagement Officer YRE, rahasia utama keberhasilan Mukti Sari bukanlah alat, tapi orang-orangnya terutama perempuan. "Sejak awal kami libatkan ibu-ibu. Mereka belajar mencatat keuangan, memasarkan produk, dan ikut rapat keputusan," kenang Theo.
Melalui pendekatan Gender Action Learning System (GALS), perempuan bukan lagi pelengkap, tapi penggerak. "Transisi energi yang adil itu harus melibatkan semua. Dan di sini, perempuan menjadi motor perubahan," ujarnya.
Dari delapan unit biogas di awal, kini sudah dua puluh. Emisi karbon berkurang hingga 50 ton Co2e per tahun. Di balik angka itu, ada wajah-wajah perempuan yang tersenyum karena dapurnya terang dan ladangnya subur.
Selain Mukti Sari, upaya Pertamina Hulu Rokan (PHR) untuk mendorong kemandirian energi berbasis biogas juga dilakukan di berbagai titik Zona Rokan. Melalui program Desa Energi Berdikari (DEB), PHR bersama YRE telah membangun dan mendukung lebih dari 29 unit reaktor biogas di sejumlah lokasi, termasuk Kecamatan Rumbai (Pekanbaru) dan Kecamatan Bangko (Rokan Hilir).
Program ini memanfaatkan limbah ternak dan organik untuk energi rumah tangga serta pupuk pertanian. Menurut data hingga Maret 2025, produksi biogas dari seluruh reaktor aktif di wilayah operasi PHR setara dengan 197.000 kWh energi, dengan potensi pengurangan emisi mencapai lebih dari 50 ton Co2e per tahun.
"Bagi kami, energi tak hanya keluar dari pipa kilang, tapi juga dari tangan masyarakat. Melalui biogas, kami ingin energi itu benar-benar menyentuh manusia, bukan sekadar angka di laporan," ujar Iwan Ridwan Faizal, Manager Community Involvement & Development (CID) PHR saat kunjungan ke DEB Mukti Sari, Senin (20/10/2025).
Ia menegaskan, program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PHR diarahkan untuk membangun kapasitas masyarakat, bukan memberi bantuan sementara. "Kalau masyarakat bisa mandiri, energi itu akan hidup lebih lama. Dan Mukti Sari adalah bukti bahwa perubahan bisa lahir dari desa," tambahnya.
Kini, banyak daerah datang belajar. "Dari sini kami tahu, energi sejati bukan sekadar menyalakan api, tapi menyalakan kehidupan," tutup Iwan Faizal.
Keberhasilan Mukti Sari menular cepat. Desa-desa sekitar datang menengok, belajar. "Ya, ada sedikit kecemburuan. Tapi kami bilang, rahasianya cuma satu kata komitmen. Di sini, kotoran wajib jadi duit," ujar Waryono tersenyum.
Kini bukan hanya limbah sapi yang diolah. Limbah tahu, limbah pasar, bahkan limbah pondok pesantren mulai dikumpulkan untuk biogas tambahan. "Kalau dulu malu karena bau, sekarang bangga karena bermanfaat," kenang sang kepala desa.
Dengan 5.350 jiwa dan 727 kepala keluarga, Mukti Sari kini menjadi contoh. Pendapatan naik, lingkungan bersih, dan warga lebih percaya diri. "Kami ini kecil, tapi kami belajar jadi besar dengan cara sendiri," tandas Waryono.
Sore tiba dengan warna oranye lembut. Dari dapur-dapur kecil, api biru menari di bawah panci. Suara anak-anak bercampur dengan lenguhan sapi dari kandang.
Di tepi reaktor, Sudarman menatap pipa gas yang menjulur ke arah rumah-rumah. "Yang kami lakukan kecil saja, tapi dari sinilah hidup kami berubah," ucapnya pelan.
Dari 950 ton limbah setiap tahun, lahir energi bersih, pupuk organik, kesetaraan, dan kebanggaan. Dari sesuatu yang dulu dihindari, lahirlah martabat baru. "Kalau dulu orang takut lewat karena bau, sekarang mereka datang untuk belajar. Karena di sini, kotoran sudah jadi cahaya," ujar Sudarman penuh bangga.
Bagi warga Mukti Sari, setiap tetes cairan yang mereka hasilkan bukan sekadar pupuk atau energi. Itu simbol kemandirian, bukti bahwa masa depan tak selalu datang dari luar.
Masa depan bisa tumbuh dari lumpur, dari tekad untuk tidak menyerah. Mereka tak menunggu keajaiban, mereka menciptakannya dengan ilmu sederhana, kerja sama, dan keyakinan bahwa bumi bisa sembuh bila dijaga dengan hati.
Kini, DEB Mukti Sari bukan sekadar titik kecil di peta Riau. Ia menjadi cermin bagi banyak desa yang mencari jalan keluar dari ketergantungan energi dan pupuk kimia. Revolusi hijau itu memang senyap, tapi gema harapannya terdengar jauh.
Dari bau lahir kehidupan, dari kotoran muncul cahaya. Dari desa kecil ini, negeri belajar menyalakan harapan dari hal paling sederhana, kesungguhan manusia hidup selaras dengan alam.
Dari hulu kehidupan di kandang sapi hingga ke hilir dapur rumah tangga, Desa Mukti Sari membuktikan bahwa perubahan besar bisa lahir dari langkah kecil. Di tangan para peternak, kotoran sapi yang dulu dibuang kini diolah menjadi sumber energi.
Dari reaktor biogas sederhana di belakang rumah, lahir api biru yang menerangi malam dan menyalakan kesadaran baru bahwa limbah bukan akhir, tapi awal dari kehidupan yang lebih baik.
Di bagian hilir, sisa olahan biogas bioslurry kembali memberi kehidupan bagi tanah. Pupuk organik cair dan padat itu menumbuhkan padi, cabai, hingga sayuran di kebun warga. Rantai itu utuh dan berputar dari ternak ke tanah, dari tanah ke dapur, lalu kembali menjadi manfaat bagi manusia.
Berdasarkan data Pertamina Hulu Rokan, sebanyak 22 keluarga kini memanfaatkan lebih dari 20 reaktor aktif, dengan potensi pengurangan emisi mencapai 112 ton Co2e per tahun. Angka yang mungkin kecil di atas kertas, namun besar maknanya bagi desa yang kini berdaulat energi.
Dan di ujung perjalanan itu, mengalir harapan yang tak pernah padam. Di Mukti Sari, hukum keberlanjutan bukan sekadar pasal atau program, tapi tindakan nyata yang tumbuh dari kesadaran warga. Bau yang dulu dihindari kini menjadi aroma kebanggaan tanda bahwa masa depan bisa menyala bahkan dari tempat yang tak terduga.***
Penulis: Rezi Andika Putra
Editor: Redaksi