JALAN lintas yang ramai, deru kendaraan besar, serta jarak sekitar 15 kilometer tak menyurutkan langkah Fitriani untuk mengantarkan putranya, Azam, ke sekolah. Setiap perjalanan dari Desa Buluh Apo, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, menjadi bagian dari perjuangannya agar sang anak memperoleh pendidikan dan kesempatan bersosialisasi.
Dengan mengendarai sepeda motor, Fitriani mengantar Azam yang berusia delapan tahun ke SLB Yayasan Bumi Manggalo. Perjalanan itu bukan perkara mudah. Ia harus berhati-hati melewati jalan lintas Sumatera yang dilalui kendaraan-kendaraan besar.
Namun, bagi Fitriani, jarak dan risiko perjalanan bukan alasan untuk menghentikan langkah Azam menuntut ilmu. Ia ingin putranya tumbuh, mengenal lingkungan di luar rumah, berinteraksi dengan teman-temannya, serta mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki.
Azam merupakan anak dengan hambatan intelektual atau tunagrahita. Dalam proses tumbuh kembangnya, ia membutuhkan pendampingan dan lingkungan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Fitriani memahami bahwa setiap anak memiliki proses perkembangan yang berbeda, termasuk putranya.
Ia tidak menuntut Azam untuk menjadi seperti anak-anak lainnya. Harapannya sederhana, Azam terus belajar, semakin percaya diri, dan perlahan mampu melakukan lebih banyak hal secara mandiri.
"Saya ingin Azam bisa bersosialisasi dengan teman-temannya dan semakin percaya diri. Saya berharap dia terus belajar, mengalami perubahan yang baik, dan bisa lebih mandiri sesuai kemampuannya,” ujar Fitriani, Rabu (09/09/2026).
Bagi seorang ibu, melihat anak tumbuh dan berkembang merupakan harapan yang wajar. Namun, bagi Fitriani, harapan itu juga berarti memastikan Azam tidak kehilangan kesempatan hanya karena kondisi yang dimilikinya.
Pendidikan menjadi salah satu jalan yang ia pilih untuk membantu putranya berkembang. Di sekolah, Azam tidak hanya belajar, tetapi juga mendapat kesempatan untuk bertemu teman-teman, mengenal lingkungan baru, dan membangun keberanian melalui interaksi sehari-hari.
Setiap anak memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dikenali dan diberi ruang untuk tumbuh. Bagi Fitriani, perjalanan menuju sekolah merupakan bagian dari upaya membuka ruang itu bagi Azam.
Pertemuan dengan Fitriani terjadi secara tidak sengaja saat rombongan media visit PHR melakukan kunjungan ke SLB Yayasan Bumi Manggalo. Ketika itu, Fitriani datang untuk menjemput Azam yang telah selesai mengikuti kegiatan belajar.
Sembari menunggu putranya, ia duduk di atas sepeda motor di halaman sekolah. Dari pertemuan singkat itulah, kisah perjuangan seorang ibu yang setiap hari menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer demi pendidikan anaknya mulai terungkap.
Di balik semangatnya mengantar sang anak, ada satu persoalan yang masih menjadi harapan, tersedianya fasilitas transportasi untuk siswa berkebutuhan khusus yang tinggal jauh dari sekolah.
Selama ini, Fitriani harus mengandalkan sepeda motor untuk mengantar dan menjemput Azam. Jarak yang cukup jauh dan lalu lintas kendaraan besar membuat perjalanan membutuhkan perhatian ekstra.
Ia berharap suatu saat ada kendaraan khusus yang dapat membantu anak-anak seperti Azam menjangkau sekolah dengan lebih mudah dan aman.
"Kita berharap ada kendaraan yang mengantar jemput untuk anak-anak seperti Azam," harap Fitriani.
Harapan tersebut bukan hanya milik Fitriani. Bagi keluarga yang tinggal jauh dari sekolah, transportasi menjadi bagian penting dalam memastikan anak-anak tetap memperoleh akses pendidikan. Sebab, kesempatan belajar tidak semestinya ditentukan oleh seberapa dekat tempat tinggal seorang anak dengan sekolahnya.
Di SLB Yayasan Bumi Manggalo, perjuangan seperti yang dijalani Fitriani bertemu dengan upaya para guru untuk memberikan ruang belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Sekolah yang berdiri sejak 2011 itu berawal dari kepedulian Muhammad Umar terhadap banyaknya anak berkebutuhan khusus di wilayah tersebut yang memerlukan layanan pendidikan.
Pada masa awal berdiri, sekolah ini hanya memiliki 17 siswa. Kegiatan belajar pun berlangsung di sebuah ruangan pinjaman di madrasah. Dengan sarana yang terbatas, para pendiri dan tenaga pengajar berupaya menghadirkan tempat bagi anak-anak yang membutuhkan pendekatan pendidikan berbeda.
Perjalanan itu terus berlanjut. Pada 2026, SLB Yayasan Bumi Manggalo telah mendidik 53 siswa dengan dukungan sembilan guru dan seorang petugas kebersihan. Sekolah ini memiliki akreditasi B dan melayani siswa dengan beragam kebutuhan, mulai dari tunagrahita, tunarungu, tunadaksa, hingga anak-anak yang mengalami kesulitan belajar atau slow learner.
Sebagian siswa datang dari wilayah yang cukup jauh, termasuk Muara Basung dan Kota Duri. Kondisi tersebut membuat akses menuju sekolah menjadi tantangan tersendiri bagi sejumlah keluarga.
Kepala SLB Yayasan Bumi Manggalo, Aulia Nur Izzah, mengatakan sekolah berupaya memberikan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat menjadi bekal bagi siswa setelah menyelesaikan pendidikan.
"Kami ingin anak-anak di sini mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan potensi masing-masing. Bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan yang bisa menjadi bekal bagi mereka agar semakin mandiri," ujar Aulia sapaan akrabnya.
Bagi Aulia dan para guru, setiap siswa memiliki kemampuan yang perlu dikenali dan dikembangkan. Tidak semua anak harus mencapai hasil yang sama. Yang terpenting, mereka memperoleh kesempatan untuk belajar sesuai potensi masing-masing.
Karena itu, pembelajaran di sekolah tidak berhenti pada kegiatan membaca, menulis, dan berhitung. Para siswa juga diperkenalkan dengan berbagai keterampilan yang dapat membantu mereka mengenali kemampuan diri, melatih ketekunan, dan menghasilkan sesuatu melalui proses belajar.
Teks Foto: Murid SLBYayasan Bumi Manggalo didampingi tim PT PHR dalam kerajinan pembuatan alas kaki dan menjahit.
"Ada keramik atau clay, menjahit, kriya kayu dan pembuatan alas kaki atau keset. Namun, kriya kayu dan menjahit menjadi fokus utama," kata Aulia.
Keterampilan tersebut menjadi bagian penting dari upaya sekolah mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan setelah lulus. Melalui latihan yang dilakukan secara bertahap, siswa diajak mengenal bahan, menggunakan peralatan, mengikuti instruksi, serta menyelesaikan pekerjaan sesuai kemampuan mereka.
"Ada siswa yang dapat memahami materi dengan cepat, sementara siswa lainnya memerlukan pengulangan dan pendampingan lebih intensif. Guru harus menyesuaikan metode pembelajaran agar setiap anak dapat mengikuti kegiatan dengan aman dan nyaman," ungkap Aulia.
Di antara berbagai keterampilan yang dikembangkan, kriya kayu menjadi salah satu kegiatan yang membuka kesempatan bagi siswa untuk menghasilkan karya yang memiliki nilai guna.
Namun, mengembangkan keterampilan tersebut bukan tanpa hambatan. Sebelum mendapatkan dukungan peralatan dan bahan baku yang memadai, sekolah harus menghadapi keterbatasan sarana. Harga kayu yang tidak murah membuat proses latihan perlu dilakukan secara cermat, sementara peralatan yang tersedia belum cukup untuk mendukung kegiatan secara optimal.
"Siswa bahkan pernah menggunakan kardus sebagai media latihan. Bahan sederhana itu dimanfaatkan untuk mengenalkan bentuk dan proses pembuatan produk sebelum mereka dapat berlatih menggunakan kayu," tambah Aulia.
Dari keterbatasan itulah, pentingnya dukungan terhadap pendidikan keterampilan semakin terasa. Anak-anak membutuhkan kesempatan untuk mencoba, sementara guru memerlukan peralatan dan bahan yang memadai agar proses belajar dapat berjalan secara berkelanjutan.
PHR Membuka Jalan Kemandirian
Upaya pengembangan keterampilan di SLB Yayasan Bumi Manggalo kemudian mendapat dukungan dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).
Program tersebut diarahkan untuk mengembangkan kemampuan vokasional siswa berkebutuhan khusus agar mereka memiliki keterampilan praktis yang dapat terus diasah. Harapannya, keterampilan itu menjadi bekal untuk meningkatkan kemandirian sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.
Dukungan PHR mencakup penyediaan peralatan dan fasilitas kerja dengan memperhatikan aspek keselamatan, bahan baku kayu dari sumber lokal, serta pendampingan teknis bagi guru dan siswa.
Program kriya kayu ini secara khusus menyasar 10 siswa dan lima guru. Keterlibatan guru menjadi bagian penting karena pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diteruskan kepada siswa lainnya melalui kegiatan belajar di sekolah.
Dukungan tersebut dikembangkan secara bertahap. Pada 2025, PHR memberikan dukungan berupa mesin jahit. Selanjutnya, pada 2026, pengembangan keterampilan dilanjutkan dengan penyediaan peralatan pemotongan dan pengerjaan kayu, bahan baku, serta pelatihan bagi guru dan siswa.
Melalui pendampingan tersebut, para siswa mulai mempelajari tahapan pembuatan produk, dari menghaluskan kayu, merakit bagian-bagian, melakukan penyelesaian akhir, hingga mengemas hasil karya.
Setiap tahapan menjadi kesempatan bagi siswa untuk berlatih dan membangun keterampilan. Mereka belajar mengenali bahan, mengikuti urutan pekerjaan, menjaga ketelitian, dan menyelesaikan tugas dengan bimbingan guru.
Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, proses tersebut tidak semata-mata tentang menghasilkan produk. Latihan yang dilakukan juga dapat membantu mengembangkan konsentrasi, koordinasi gerak, serta kebiasaan bekerja secara bertahap. Capaian setiap siswa pun disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangannya.
Manager Community Involvement & Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan pengembangan produk siswa dimulai dari potensi yang telah mereka miliki.
"Pengembangan produk mereka dimulai dari potensi yang sudah dimiliki," ujar Iwan ditemui terpisah.
Menurutnya, pendekatan pembinaan perlu menyesuaikan karakteristik dan kebutuhan masing-masing sekolah. Dengan demikian, keterampilan yang diajarkan dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sesuai kemampuan para siswa.
Pembinaan PHR tidak hanya berlangsung di SLB Yayasan Bumi Manggalo. Program serupa juga dijalankan di SLB Yayasan Hati Terpilih dan SLB Aisyiyah dengan fokus keterampilan yang disesuaikan dengan potensi masing-masing sekolah.
Di SLB Yayasan Hati Terpilih, misalnya, pembinaan difokuskan pada keterampilan menjahit dan pelatihan make up artist (MUA).
"Setiap sekolah memiliki potensi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, program dikembangkan sesuai kemampuan masing-masing agar keterampilan yang diberikan dapat benar-benar dimanfaatkan dan dikembangkan," kata Iwan.
Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi setiap sekolah untuk mengembangkan kegiatan yang sesuai dengan kondisi siswanya. Tujuannya bukan sekadar mengenalkan keterampilan baru, melainkan membangun kemampuan yang dapat terus dilatih dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di SLB Yayasan Bumi Manggalo, hasil dari proses belajar itu mulai terlihat melalui karya-karya yang dihasilkan siswa. Produk mereka telah diperkenalkan dalam sejumlah kegiatan dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut, termasuk sebagai produk yang dapat dipasarkan.
Bagi sekolah, setiap karya yang berhasil diselesaikan merupakan bagian dari proses panjang pembelajaran. Ada latihan, pendampingan, dan pengulangan sebelum sebuah produk dapat dinyatakan selesai. Di balik hasil akhirnya, terdapat pengalaman yang membantu siswa belajar menyelesaikan pekerjaan dan menghargai hasil usaha sendiri.
Perjalanan sekolah ini juga diwarnai sejumlah prestasi. Para siswa pernah meraih juara tiga kategori lampu hias pada 2021, juara tiga balance toys pada 2022, penghargaan di bidang memasak pada 2023, serta juara tiga kategori tempat alat tulis kantor pada 2024.
Teks Foto: Akbar Dermawan, siswa tunarungu SLB Yayasan Bumi Manggalo, berlatih membuat produk kriya kayu dengan pendampingan tim PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
Pada tahun yang sama, SLB Yayasan Bumi Manggalo juga meraih juara dua tingkat Provinsi Riau melalui karya kriya kayu yang melibatkan Akbar Dermawan, siswa tunarungu berusia 19 tahun.
Aulia menjelaskan, Akbar sebenarnya berpeluang melanjutkan kompetisi ke tingkat nasional. Namun, kesempatan tersebut tidak dapat dilanjutkan karena kendala ketersediaan guru pendamping.
"Akbar seharusnya diberangkatkan untuk tingkat nasional, tetapi terkendala guru pendampingnya perempuan, sehingga tidak bisa melanjutkan ke tingkat nasional. Maka, hasilnya berubah menjadi juara dua,” jelas Aulia.
Prestasi tersebut menjadi salah satu pencapaian yang membanggakan bagi sekolah. Karya kriya kayu yang dihasilkan menunjukkan bahwa siswa berkebutuhan khusus juga dapat mengembangkan keterampilan dan berkompetisi ketika mendapatkan kesempatan serta pendampingan yang sesuai.
Akbar sendiri telah mendapatkan pembinaan sejak duduk di kelas satu. Selama proses belajar, ia dikenal cepat memahami materi yang diberikan dan mudah diarahkan dalam kegiatan keterampilan.
Perjalanan Akbar menjadi salah satu contoh bagaimana proses pembelajaran yang berlangsung secara konsisten dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan. Keterampilan yang dipelajarinya sejak dini menjadi bekal untuk terus menghasilkan karya dan meningkatkan kepercayaan diri.
Sekolah berharap Akbar dapat terus mengasah kemampuannya, sekaligus menjadi siswa senior yang kelak membantu mengenalkan keterampilan kepada adik-adik kelasnya. Pengetahuan yang telah diperoleh diharapkan tidak berhenti pada dirinya, tetapi dapat diteruskan kepada siswa lain.
Harapan itu juga menjadi bagian dari upaya sekolah membangun lingkungan belajar yang saling mendukung. Siswa tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi berpeluang tumbuh menjadi orang yang mampu berbagi pengetahuan dan pengalaman sesuai kemampuannya.
Meski demikian, perjalanan Akbar untuk mengikuti kegiatan belajar juga menghadapi tantangan. Ia tinggal di Desa Pinggir dan terkadang mengalami kendala transportasi untuk menuju sekolah. Ketika kendaraan tidak tersedia, guru harus menjemputnya agar ia tetap dapat mengikuti pembelajaran.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan memperoleh pendidikan tidak hanya berkaitan dengan proses belajar di dalam kelas. Bagi sebagian siswa, perjalanan menuju sekolah merupakan tantangan yang harus diatasi terlebih dahulu.
Kisah Akbar dan Azam memperlihatkan persoalan itu dari dua sisi yang berbeda. Ada anak yang sedang memulai perjalanan pendidikannya dan membutuhkan kesempatan untuk tumbuh, ada pula siswa yang telah mengembangkan keterampilan dan mulai menunjukkan hasil dari proses belajarnya.
Keduanya memiliki kebutuhan dan perjalanan masing-masing. Namun, keduanya juga membutuhkan lingkungan yang mendukung agar dapat terus belajar, berkembang, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Bagi Fitriani, harapan tersebut berawal dari keputusan sederhana yang ia lakukan setiap hari, mengantar Azam ke sekolah.
Ia mungkin belum mengetahui sejauh mana putranya akan berkembang pada masa mendatang. Namun, ia ingin memastikan Azam memperoleh kesempatan untuk belajar, bertemu teman-temannya, membangun rasa percaya diri, dan menjadi lebih mandiri sesuai kemampuannya.
Sementara itu, para guru di SLB Yayasan Bumi Manggalo terus berupaya memberikan ruang bagi setiap siswa untuk menemukan potensi diri. Melalui pembelajaran akademik dan keterampilan, mereka mendampingi anak-anak agar dapat berkembang tanpa harus dibandingkan dengan kemampuan orang lain.
Dukungan PHR terhadap pengembangan keterampilan turut menjadi bagian dari upaya tersebut. Peralatan, bahan baku, dan pendampingan membuka kesempatan bagi siswa untuk berlatih, menghasilkan karya, serta mengembangkan kemampuan yang dapat terus diasah.
Namun, pengembangan keterampilan bukan satu-satunya kebutuhan yang dihadapi anak-anak berkebutuhan khusus. Akses transportasi, dukungan keluarga, pendampingan guru, serta penerimaan lingkungan juga berperan dalam memastikan mereka memperoleh kesempatan belajar secara berkelanjutan.
Harapan Fitriani tentang kendaraan antar jemput menjadi pengingat bahwa akses pendidikan perlu diperhatikan bersama. Sebab, keterampilan dan potensi seorang anak hanya dapat berkembang apabila ia memiliki kesempatan untuk mengikuti proses belajar.
Di tengah segala keterbatasan, langkah Fitriani mengantar Azam sejauh 15 kilometer menyimpan makna yang lebih besar dari pada sekadar perjalanan menuju sekolah. Di sana ada keyakinan seorang ibu bahwa anaknya berhak belajar dan tumbuh, meski prosesnya mungkin berbeda dari anak-anak lain.
Di sekolah itu pula, karya kriya kayu Akbar menjadi bukti bahwa kesempatan yang diberikan dapat membuka jalan bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka. Apa yang dahulu dimulai dari latihan sederhana kini telah mengantarkan sekolah meraih prestasi di tingkat provinsi.
Tidak semua anak akan berkembang dengan cara dan kecepatan yang sama. Tidak semua pula akan memiliki kemampuan atau cita-cita yang serupa. Namun, setiap anak berhak mendapatkan ruang untuk mencoba, belajar, dan menemukan hal yang dapat ia lakukan.
Bagi Fitriani, yang terpenting bukanlah seberapa jauh Azam mampu melangkah dibandingkan anak-anak lainnya. Ia hanya ingin putranya terus berkembang dan memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri.
Sebab, bagi seorang ibu, perjalanan sejauh 15 kilometer itu bukan semata-mata tentang mengantar anak ke sekolah. Itu adalah perjalanan untuk menjaga harapan agar tetap hidup.
Harapan bahwa suatu hari Azam akan semakin percaya diri, mampu bersosialisasi, dan tumbuh sesuai potensinya. Harapan yang mungkin sederhana, tetapi layak diperjuangkan setiap hari.*
Penulis: Rezi AP
Editor: Redaksi