crossorigin="anonymous">
Bengkalis -
Bengkalis

Saluran SPPG Pedekik Berlumut dan Berbau, Pemdes Minta Pengelolaan Limbah Diperjelas

Redaksi Redaksi
Saluran SPPG Pedekik Berlumut dan Berbau, Pemdes Minta Pengelolaan Limbah Diperjelas
Net/Ilustrasi

Saluran Limbah SPPG Pedekik Disorot, Pemdes Minta Pengelolaan Air Buangan Diperjelas
RIAUPEMBARUAN.COM - Kondisi saluran pembuangan di sisi bangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pedekik, RT 004/RW 002, Dusun I, Desa Pedekik, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, menjadi sorotan warga dan Pemerintah Desa Pedekik.

Saluran yang berada tepat di samping bangunan SPPG tersebut terlihat kurang terawat. Sejumlah bagian saluran dipenuhi lumut dan endapan. Aliran air juga terlihat tidak lancar dan menimbulkan bau kurang sedap.

Pantauan di lokasi pada Minggu (6/9/2026), beberapa bagian saluran tampak menghitam, terdapat genangan serta endapan di dasar saluran. Kondisi itu memunculkan pertanyaan mengenai sistem pengelolaan air buangan dari aktivitas dapur SPPG yang berlangsung setiap hari.

Aktivitas dapur SPPG diketahui menghasilkan air bekas pencucian bahan makanan, seperti ayam dan sayuran, serta air dari pencucian peralatan memasak dan ompreng. Karena itu, sistem pembuangan dan pengelolaan air buangan menjadi penting untuk memastikan tidak menimbulkan persoalan bagi lingkungan sekitar.

Salah seorang warga, Bambang, mengatakan persoalan tersebut sebelumnya telah disampaikan bersama warga kepada pihak SPPG. Bahkan, warga bersama Sekretaris Desa Pedekik telah mendatangi lokasi untuk menyampaikan keluhan.

“Kemarin kami bersama warga dan Sekdes sudah ke SPPG tersebut. Selain berbau, yang kami permasalahkan limbahnya mengendap di situ. Kami takut nantinya mengakibatkan jalan keropos dan patah,” ujar Bambang, Selasa (8/9/2026).

Menurut Bambang, kekhawatiran warga berkaitan dengan kondisi saluran yang berada berdekatan dengan badan jalan. Ia menilai air buangan yang mengandung minyak maupun lemak apabila tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan persoalan pada lingkungan sekitar.

“Kalau tanah sudah bercampur minyak dan lemak-lemak sisa makanan dan masakan, akan menjadi lumpur dan membuat jalan di samping itu keropos dan patah,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Pedekik, Maskur, membenarkan bahwa dirinya telah mendatangi pihak dapur SPPG untuk membicarakan persoalan pembuangan air buangan.

Menurut Maskur, pihak dapur menyampaikan bahwa limbah yang bersifat lemak, termasuk air bekas cucian ayam dan sayuran, telah memiliki saluran atau fasilitas khusus serta dilakukan penyaringan.

“Kemarin saya sudah menjumpai pihak dapur terkait limbah pembuangan yang bersifat lemak-lemak, cucian ayam dan sayur. Kata mereka sudah ada limbah khusus dan sudah disaring,” ujar Maskur.

Namun, Maskur mengatakan saluran di samping dapur SPPG yang menurut pihak dapur digunakan untuk membuang air dari aktivitas mencuci tangan dan mencuci ompreng terlihat kurang bersih dan dipenuhi lumut.

Atas kondisi tersebut, ia meminta pihak SPPG segera melakukan pembersihan agar saluran tidak menjadi persoalan di kemudian hari.

“Untuk limbah di selokan di samping dapur yang katanya limbah dari cucian tangan dan ompreng, saya lihat kurang bersih dan berlumut. Saya minta untuk dibersihkan,” katanya.

Maskur juga menawarkan solusi agar saluran tersebut dibeton. Terlebih, terdapat aliran yang mengarah ke kawasan mushola sehingga menurutnya perlu mendapat perhatian lebih.

“Saya menawarkan opsi untuk dibeton dan untuk yang mengarah ke mushola harus lebih diperhatikan lagi,” ujarnya.

Pemdes Pedekik mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pengelola SPPG dan meminta adanya kerja sama untuk menyelesaikannya. Jika tidak ditindaklanjuti, pemerintah desa berencana meneruskan aspirasi tersebut kepada instansi terkait.

“Saya sudah sampaikan juga kepada pihak dapur, mohon kerja samanya. Kalau tidak ditanggapi, saya akan melaporkan ke pihak terkait seperti DLH, Dinkes dan sebagainya, karena yang saya bawa ini aspirasi masyarakat,” tegas Maskur.

Selain persoalan saluran, Pemdes Pedekik juga berharap keberadaan SPPG memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat desa. Pengelola SPPG diminta ikut memperhatikan potensi produk lokal, hasil pertanian dan pelaku UMKM di Desa Pedekik.

“Selaku Pemdes Pedekik, saya berharap SPPG Pedekik ini bekerja sama dan lebih memperhatikan produk lokal desa, hasil pertanian dan UMKM-nya juga,” harapnya.

Sorotan terhadap saluran tersebut kini membutuhkan penjelasan lebih lanjut dari pengelola SPPG, terutama mengenai sistem pengelolaan air buangan yang berasal dari aktivitas dapur.

Hal yang perlu dipastikan antara lain apakah setiap jenis air buangan telah dipisahkan sesuai karakteristiknya, fasilitas penyaringan atau pengolahan apa yang digunakan, bagaimana pemeliharaannya, serta ke mana air dialirkan setelah melalui proses penyaringan.

Klarifikasi tersebut penting agar keberadaan SPPG sebagai fasilitas pelayanan masyarakat tidak menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan dan warga di sekitarnya.*

Penulis: Eru Kurniawan

Editor: Redaksi


Tag:Program MBGSPPG Pendekik