RIAUPEMBARUAN.COM -Dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Dumai memasuki tahap investigasi. Pihak Yayasan Mahudun Untuk Negeri menyatakan masih menunggu hasil pemeriksaan Labkesda Provinsi Riau dan Labfor kepolisian sebelum memberikan penjelasan secara menyeluruh.
Ketua Harian Yayasan Mahudun Untuk Negeri, Yonfen Hendri, mengatakan pihaknya belum dapat memberikan banyak keterangan karena proses pemeriksaan masih berlangsung.
“Tidak bisa berkomentar terlalu banyak karena masih menunggu hasil Labkesda dan Labfor kepolisian. Setelah hasil keluar baru bisa kita sampaikan secara lengkap. Saat ini pihak kita menunggu hasil keluar secara menyeluruh,” ujar Yonfen.
Kasus ini bermula setelah makanan MBG dikonsumsi siswa SDN 013 dan SDN 015 pada Kamis (13/8/2026). Sejumlah siswa kemudian mengalami keluhan kesehatan dan mendapat penanganan medis.
Berdasarkan pembaruan Dinas Kesehatan Kota Dumai, hingga Jumat (14/8/2026) tercatat 41 orang dibawa ke IGD RSUD Dumai, terdiri dari 36 siswa SDN 013, lima siswa SDN 015 dan satu guru SDN 013.
Dari jumlah tersebut, tiga orang masih menjalani perawatan, sementara lainnya telah pulang. Satu orang dipulangkan atas permintaan orang tua.
Dinkes juga menyebut terdapat siswa lain yang mengalami gejala ringan dan mendapat penanganan di ruang UKS. Jumlah keseluruhannya belum diketahui karena sekolah diliburkan.
Dalam investigasinya, Dinkes Dumai telah mengambil sejumlah sampel untuk diperiksa di Labkesda Provinsi Riau. Sampel tersebut meliputi nasi, sayur kol dan wortel, tempe, bakso, air bersih dan air minum di dapur SPPG, serta muntahan siswa yang berada di RSUD.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Dumai, Dr. Syaiful, M.K.M, mengatakan pihaknya melakukan evaluasi dan investigasi terhadap proses pengolahan dan penyajian makanan.
“Melakukan evaluasi dan investigasi pengolahan dan penyajian makanan dan mengambil sampel makanan dan dikirim ke Labkesda Riau,” ujar Syaiful.
Dalam keterangannya melalui telepon seluler, Syaiful menegaskan hasil laboratorium masih ditunggu. Hasil evaluasi dan investigasi Dinkes juga telah dilaporkan kepada Satgas yang dipimpin Sekretaris Daerah Kota Dumai.
“Untuk hasil lab kita masih menunggu. Untuk informasi lanjutan, akan kita infokan lagi jika hasil sudah kita terima,” katanya.
Sementara itu, ketika dikonfirmasi mengenai teknis operasional SPPG Gajah Mada, Yonfen mengatakan pihak yayasan tidak dapat memberikan penjelasan secara teknis.
“Untuk teknis SPPG, kita tidak bisa menjawab, karena ada tim mereka untuk menjelaskannya,” ujarnya.
Menurut Yonfen, pihak yayasan saat ini lebih memprioritaskan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak.
“Saat ini kita fokus memberikan pelayanan yang terbaik kepada yang terdampak,” tegasnya.
Di sisi lain, Koordinator Wilayah Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia (LMR-RI), Bambang Setiawan, meminta penyelenggaraan SPPG di Dumai tetap berjalan sesuai ketentuan.
“Proses SPPG di Dumai harus sesuai aturan dan menjadi contoh bagi yang lain,” tegas Bambang.
Ia menilai munculnya beberapa kejadian terkait MBG di Kota Dumai harus menjadi bahan evaluasi agar tidak terulang.
“Sudah ada beberapa kejadian di Kota Dumai. Ini harus menjadi bahan evaluasi agar tidak terulang kembali,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolres Dumai AKBP Fatikh Dedy Setyawan telah dikonfirmasi terkait dugaan kejadian tersebut. Sejumlah pertanyaan mengenai langkah kepolisian, pemeriksaan pihak terkait dan kemungkinan adanya unsur kelalaian telah disampaikan. Namun hingga berita ini diterbitkan, Kapolres Dumai belum memberikan jawaban.
Kasus terbaru ini menjadi perhatian karena sebelumnya, pada 4 Agustus 2026, sejumlah siswa SMAN 2 Dumai juga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG. Namun, hubungan kedua kejadian tersebut belum dapat dipastikan.
Penulis: Redaksi
Editor: Rezi AP