RIAUPEMBARUAN.COM??" Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat neraca perdagangan Riau selama periode Januari-April 2026 mengalami surplus sebesar US$5,96 miliar. Surplus tersebut ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas yang terus tumbuh serta kontribusi positif dari sektor migas.
Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi, mengatakan surplus perdagangan tersebut berasal dari surplus sektor nonmigas sebesar US$5,74 miliar dan sektor migas sebesar US$215,84 juta.
“Selama Januari-April 2026, neraca perdagangan Riau mengalami surplus US$5,96 miliar. Pada April 2026 saja, surplus tercatat sebesar US$1,59 miliar yang berasal dari surplus nonmigas sebesar US$1,51 miliar dan migas sebesar US$83,17 juta,” ujar Asep Riyadi, Selasa (2/6/2026).
Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Riau selama Januari-April 2026 mencapai US$7,03 miliar atau meningkat 8,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang mencapai US$6,75 miliar atau tumbuh 12,36 persen secara tahunan.
Sementara itu, ekspor Riau pada April 2026 tercatat sebesar US$1,76 miliar atau naik 33,96 persen dibandingkan April tahun lalu. Ekspor nonmigas mencapai US$1,67 miliar atau meningkat 38,58 persen, sedangkan ekspor migas turun 16,98 persen menjadi US$90,63 juta.
Dari sisi komoditas, peningkatan terbesar ekspor nonmigas terjadi pada kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati yang naik US$662,38 juta atau 20,08 persen. Sebaliknya, komoditas bubur kayu (pulp) mengalami penurunan terbesar, yakni sebesar US$106,27 juta atau 16,90 persen.
Asep menjelaskan, Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Riau dengan nilai mencapai US$1,23 miliar. Posisi berikutnya ditempati India sebesar US$639,85 juta dan Malaysia sebesar US$526,72 juta. Ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 35,54 persen dari total ekspor nonmigas Riau.
Selain itu, nilai ekspor ke kawasan ASEAN mencapai US$1,23 miliar, sementara ekspor ke negara-negara Uni Eropa tercatat sebesar US$726,06 juta.
“Ekspor nonmigas hasil industri pengolahan meningkat 12,81 persen, sedangkan ekspor hasil pertanian mengalami penurunan 10,40 persen,” jelasnya.
Di sisi lain, nilai impor Riau selama Januari-April 2026 mencapai US$1,08 miliar atau melonjak 100,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut berasal dari impor migas yang mencapai US$63,81 juta atau naik 112,15 persen, serta impor nonmigas sebesar US$1,01 miliar yang meningkat 99,53 persen.
Pada April 2026, impor Riau tercatat sebesar US$164,40 juta atau tumbuh 3,02 persen dibandingkan April 2025. Impor migas meningkat signifikan sebesar 144,18 persen menjadi US$7,46 juta, sementara impor nonmigas naik 0,26 persen menjadi US$156,94 juta.
Komoditas impor nonmigas terbesar selama Januari-April 2026 didominasi oleh kapal terbang dan bagiannya dengan nilai mencapai US$400,83 juta. Sementara itu, penurunan impor terbesar terjadi pada bahan bubur kayu (pulp) sebesar US$12,07 juta atau 20 persen.
Dari sisi negara asal, Prancis menjadi pemasok utama impor nonmigas Riau dengan nilai US$399,90 juta atau 39,45 persen dari total impor nonmigas. Selanjutnya Tiongkok sebesar US$143,50 juta dan Kanada sebesar US$76 juta.
BPS juga mencatat impor barang modal mengalami lonjakan sangat signifikan sebesar 1.267,94 persen menjadi US$464,69 juta. Sementara impor bahan baku atau penolong naik 21,61 persen dan barang konsumsi meningkat 6,24 persen.
“Peningkatan impor barang modal menunjukkan adanya aktivitas investasi dan penguatan kegiatan ekonomi di daerah. Secara keseluruhan, kinerja perdagangan luar negeri Riau pada awal 2026 menunjukkan tren positif yang didorong pertumbuhan ekspor nonmigas dan meningkatnya aktivitas ekonomi,” pungkas Asep.
Penulis: Redaksi
Editor: Rezi AP